Membangun Mentalitas Pembangunan
Oleh Teuku Zulkhairi
Tahun 2000 silam, saat pulang dari sekolah saya melihat petugas Telkom sibuk memasang telpon umum di kecamatan saya. Saya begitu gembira karena beberapa hari kemudian saya yakin dengan berbekal koin minimal 100 Rupiah sudah bisa memakai jasa telpon tersebut. Tapi apa yang terjadi, seminggu setelah dipasang, telpon tersebut rusak. Perusakan itu diyakini warga sekitar terjadi di malam hari. Niat saya pun gagal memanfaatkan sebelum akhirnya petugas Telkom memperbaikinya kembali.
Kasus lainnya, sebuah meunasah baru selesai dibangun lengkap dengan WCnya. Beberapa bulan kemudian, WC di meunasah tersebut sudah tidak layak lagi dipakai karena sudah sangat kotor dan jorok . Para pemakai jasanya hanya menggunakan haknya untuk memakai jasa WC tersebut, sementara kewajiban untuk membersihkannya tidak diindahkan. Lama kelamaan, WC tersebut pun ditinggalkan. Bahkan kemudian tersebar kabar di WC tersebut ada makhluk halus sehingga bangunan WC tersebut akhirnya dirobohkan. Sekitar setahun kemudian, saya lihat sudah dibangun WC baru sekitar meunasah tersebut dan beberapa minggu kemudian terlihat WC tersebut terlihat nampak kotor dan jorok.
Kedua kasus tersebut merupakan indikasi bahwa pembangunan mental lebih penting daripada pembangunan fisik. Kesiapan mental adalah salah satu kunci suksesnya semua agenda pembangunan yang dicanangkan. Sebaliknya, ketidaksiapan mental merupakan alasan terbesar gagalnya berbagai program pembanguan yang dijalankan. Sejauh ini, faktanya pembangunan fisik lebih digalakkan daripada pembangunan mental.
Sementara jika kita menuju ke Kota, kita akan mendapati indikator lainnya ketidaksiapan mental pembangunan yang dilakonkan oleh para pejabat Negara, dan bahkan oleh mereka yang dijuluki sebagai kaum terpelajar. Lihatlah berbagai kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang senantiasa menghiasi media massa kita. Para pelakunya adalah pejabat Negara yang mengerti betul tentang hukum-hukum Negara. Hal ini merupakan indikasi bahwa ketidaksiapan mental menuju era pembangunan seperti saat ini - menimpa hampir semua elemen masyarakat kita. Kasus-kasus KKN yang sering menghiasi media massa kita tentu saja juga merupakan kendala mental terbesar lainnya yang menghambat laju pembangunan di negeri kita.
Dalam buku ‘Pencerahan Mental, Kluthon menyebut ada 4 (empat) teori untuk mengukur sejauh mana perkembangan mental sebuah bangsa atau komunitas masyarakat dalam menyongsong era pembangunan. Kluthon menghimpunnya dalam lima sektor.
Pertama, Waktu. Manusia yang ‘maju’ senantiasa melihat ke depan. Ia tidak bangga dengan kebesaran masa lalunya. Tekadanya adalah bagaimana membangun masa depan yang gilang gemilang, baik dalam konteks individual maupun masyarakat secara kolektif. Sedang manusia yang ‘terbelakang’ justru terlena dan terbuai dengan masa lalu dan terus melihat masa lalu tanpa usaha dan tekad keras menuju masa depan yang lebih baik.
Kedua, Manusia. Manusia yang maju merupakan kumpulan individu-individu yang baik. Menghargai jasa orang lain. Disiplin menjaga waktu dan menjalankan tugasnya. Berjiwa membangun. Tidak egois. Saling tolong menolong. Tidak korup dan berbagai kebaikan lainnya. Sementara manusia yang terbelakang adalah sebaliknya, yaitu; Korup, egoistik, individualistic, sinkretistik, kapitalistik dan berbagai keburukan lainnya. Ketiga, Alam. Keadaan alam dibawah kendali masyarakat yang maju adalah lestari. Sedang keadaan alam dibawah kuasa masyarakat terbelakang adalah ‘ekploitasi’, penebangan hutan terjadi secara sistemik, sehingga alam seringkali marah pada manusia akibat ulah manusia-manusia terbelakang secara mental tersebut.
Keempat, Kerja. Masyarakat maju bekerja karena ingin bekerja, karena kerja harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Sedangkan masyarakat terbelakang secara mental bekerja karena kebutuhan. Bekerja hanya untuk mencari materi. Kelima, Dunia. Masyarakat yang maju melihat dunia ini sebagai sebuah peluang untuk membuka deposito amal sebanyak-banyaknya, sehingga dunia ini menjadi berharga dengan kehadirannya. Sedangkan masyarakat yang terbelakang secara mental tersebut, keberadaannya justru akan mengacaukan dunia yang damai. Bertabi’at perusuh, merusak, korup dan sebagainya sehingga dunia menjadi tidak berharga/sia-sia dengan keberadaannya.
Dengan ke lima teori ini, kita bisa mengukur sejauh mana problema mental yang menghinggap masyarakat dan Negara kita secara umum serta kemudian menjadi bahan evaluasi bagi kita dalam merancang jalannya pembangunan ke depan. Bahwa bangsa yang maju bukanlah diukur dengan kemajuan dalam sektor fisik. Keberhasilan pembangunan dalam sebuah Negara diukur secara mental. Apabila masyarakat telah siap secara mental, berbagai program pembangunan akan berjalan dengan mulus. Dan solusinya adalah melalui pembangunan mental dan agama yang intinya adalah 'pendidikan’ yang bisa melahirkan manusia-manusia yang memilki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam).
Pemerintah harus benar-benar menjadikan sektor pendidikan dan agama sebagai bagian terpenting dan unggulan dari semua agenda pembangunan lain. Jangan lagi kita mendengar ada anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah, belajar di pesantren, dan atau kuliah. Jangan lagi kita mendengat beasiswa santri dipotong. Atau anggaran untuk dayah atau kampus dipangkas seperti dalam anggaran tahun 2010 ini. Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis adalah ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.