Profil Penulis
Teuku Zulkhairi di lahirkan di Desa Leupee Kec.Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara pada tanggal 15 Agustus 1985 dari pasangan T.Hamzah dan Ainol Mardhiah. Menempuh pendidikan dasar di SDN Alue Bungkoh Aceh Utara, tamat tahun 2009. Setelah itu menempuh pendidikan agama dengan magang di Dayah Babussalam Putra Matangkuli selama 6 tahun. Selama di dayah ini, paginya juga menempuh pendidikan umum di SLTPN1 Matangkuli, tamat tahun 2002. Kemudian melanjutkan ke SMA Matangkuli. Karena terobseasi agar kelak bisa kuliah ke Timur Tengah, saat kelas 3 di SMA, kemudian pindah ke MAN Matangkuli dengan target mendapatkan ijazah Aliyah agar bisa kuliah ke Timur Tengah, Mesir(konon kabarnya kuliah sarjana ke Mesir harus dengan ijazah MAN).
Target pertama mendapatkan ijazah aliyah berhasil karena pada tahun 2005 lulus dari MAN. Namun target kedua ‘gagal’, karena dana untuk pengurusan keberangkatan ke Mesir tidak mencukupi. Setelah gagal ke Mesir kemudian mendapat tawaran kuliah ke Ma’had An-Nu’aimy Jakarta dan kuliah disini selama 3 tahun. Sebuah Ma’had yang menerapkan metode pembelajaran Timur Tengah dimana dosen-dosennya terdiri dari alumnus LIPIA Jakarta dan negara-negara Timur Tengah. Jadi, meski gagal kuliah ke Mesir namun ternyata Ma’had ini bisa membuat penulis melupakan cita-cita kuliah ke Mesir sejenak. Selama di Ma’had ini, penulis juga kuliah S1 di STAIQ Depok dan selesai pada pertengahan tahun 2009 dengan skripsi berjudul: “Pembentukan Karakter Takwa dalam Al-Qur’an. Pulang dari Jakarta kemudian melanjutkan studi Pasca Sarjana jurusan Pendidikan Islam di IAIN Ar-Raniry sambil juga menetap dan mengajar di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkalee Desa Siem Darussalam-Aceh Besar. Saat ini memasuki semester 4 dan sudah mulai menulis tesis dengan judul; “Inovasi Kurikulum Pendidikan Dayah”.
Saat SLTP bercita-cita ingin menjadi wartawan dan bertekad ingin menggeluti dunia kepenulisan. Namun, cita-cita itu belum juga terkabulkan hingga saat ini. Pernah mengikuti 2 kali training kepenulisan. Sekali dengan media nasional dan sekali lagi dengan media lokal yang dibimbing oleh Ampuh Devayan, Azwani Awi dari Serambi Indonesia dan Said Kamaruzzaman dari Kontras yang disponsori oleh Badan Pembinaan Pendidikan Dayah(BPPD) Aceh. Sejak kelas 1 SMU mulai mengirim artikel ke beberapa media massa, khususnya Serambi Indonesia dan Majalah Nida Al-Islam terbitan MPU Aceh Utara. Namun tidak pernah dimuat. Artikel pertama sekali dimuat di Harian Aceh Independen pada tahun 2008. Kemudian juga dimuat di Harian Aceh pada tahun yang sama. Pada tahun yang sama juga, opini berjudul: “Mencari Pemimpin” muncul di Harian Serambi Indonesia setelah sebelumnya pernah gagal belasan kali. Tahun-tahun selanjutnya, selain Serambi Indonesia, artikel penulis juga dimuat di beberapa media lainnya, seperti Tabloid Kontras, Majalah Badan Pembinaan Pendidikan Dayah, Buletin Peunawa, web The Aceh Institute, Tabloid Tabangun Aceh, Tabloid Gema Baiturrahman, website berita nasional eramuslim.com dan detiknews.com. Kumpulan artikel dari berbagai media itulah yang kemudian sebagian besarnya menjadi isi buku ini.
Pernah 3 kali menjadi juara 1 pada perlombaan pidato antar Kabilah semasa mondok di Dayah. Meraih juara 1 lomba pidato dan juara 2 Cerdas Cermat antar MAN se-Aceh Utara yang diselenggarakan oleh Departemen Agama(Depag) Aceh Utara pada awal tahun 2005. Juara 3 lomba baca puisi antar SMA se-Aceh Utara pada tahun 2003. Meraih juara 3 dalam sayembara menulis karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh BKKBN Propinsi Aceh pada tahun 2010. Pernah juga meraih juara 3 lomba menulis karya ilmiah di Badan Pembinaan Pendidikan Dayah.
Di dunia organisasi, pernah menjabat sebagai ketua OSIS SMA N1 Matangkuli. Wakil ketua Ikatan Penulis Santri Aceh(IPSA). Ketua Senat Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry periode 2010-2011. Hingga saat ini aktif sebagai ketua DPP bidang Riset dan Pengembangan Organisasi di Rabithah Thaliban Aceh(RTA). Wakil ketua Dewan Dakwah Islamiya Indonesia(DDII) Kota Banda Aceh. Sekretaris bidang di Pengurus Besar(PB) Dayah Inshafuddin Aceh. Selain itu juga dipercayakan sebagai sekretaris Buletin Peunawa Lembaga Kajian Agama dan Sosial(LKAS) Banda Aceh. Kepala bidang penerbitan Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh(LSAMA) yang didirikan oleh Prof.Dr.M.Hasbi Amiruddin, MA. Selanjutnya, pada 25 Maret 2011, dengan beberapa teman lainnya, akhirnya mendirikan organisasi Forum Qalam Aceh(FQA) sebagai wadah yang bertekad untuk menghimpunkan semua segmentasi masyarakat Aceh, baik santri, mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat biasa yang memiliki potensi dan semangat untuk membaca dan kemudian menulis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil’alamiin melalui tulisan tersebut kepada umat dan masyarakat dunia.
Menikah dengan Amna Maulina pada tanggal 27 Mai 2010. Setahun kemudian, pada tanggal 4 Maret 2011 dikarunia oleh Allah seorang jundi kecil yang kami beri nama T.Muhammad Erbakan. Penulis dapat dihubungi di khairi_panglima@yahoo.com. Sebagian kecil tulisan penulis dapat juga dibaca di blog www.khairipanglima.blogspot.com.
Catatan Seorang Pengembara
Segala Puji bagi Allah....
Selawat dan Salam kepada Rasulullah...
Selawat dan Salam kepada Rasulullah...
Selamat Datang Sahabat.....
Rabu, 30 Maret 2011
Sabtu, 13 November 2010
Reaktualisasi Kurikulum Pendidikan Dayah
Oleh Teuku Zulkhairi
Ide untuk menulis artikel ini sebenarnya merupakan kesimpulan pribadi setelah penulis melewati lika-liku pendidikan di dayah dan kampus. Reintegrasi (penyatuan kembali) konsep dan metodologi pendidikan dayah dan perguruan tinggi Islam akan menjadi model pendidikan Islam ideal di masa depan. Dalam hal ini, reaktulisasi kurikulum dayah saya rasa menjadi hal yang mendesak diberlakukan di dayah-dayah di Aceh. Reaktualisasi yang penulis maksdukan disini adalah penataan kembali kurikulum dayah agar mampu berkiprah dan menyesuaikan perannya dengan perkembangan zaman dan harapan masyarakat luas. Harus kita akui, stagnasi(kevakuman) kontribusi dayah dalam keilmuan kontemporer dewasa ini adalah karena dayah melepas diri dari motedologi dan kurikulum yang saat ini dikembangkan di perguruan tinggi Islam, seperti di pesantren modern, Ma’had ‘Aly, dan sebagainya. Dayah terkesan antipati terhadap pelajaran-pelajaran Islam kontemporer sekalipun.
Padahal, dalam sejarah Islam di Aceh, dari sisi normatif, dayah memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban. Tak jarang banyak ilmuan sosial baik dari dalam maupun dari luar negeri mencatat peran dayah ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kultural masyarakat Aceh dalam semua dimensi kehidupan. Sebut saja misalnya Martin Van Bruinessen, Islamisis berkembangsaan Belanda, ia menyatakan bahwa dayah tidak bisa saja kaya dengan berbagai literatur keilmuan, tetapi juga mampu memberikan konstribusinya bagi masyarakat di sekitarnya. Dayah bahkan telah menjadi sub kultur di tengah masyarakat. Pada tataran teritoral, ekspansi kontribusi dayah juga mencapai skala regional dan bahkan internasional.
Fakta bahwa kurikulum pendidikan di dayah yang tidak memenuhi standar untuk bergulat di kehidupan kontemporer pada skala regional dan internasional tentu saja merupakan sebuah PR besar yang harus diselesaikan secepatnya. Misalnya; hingga saat ini dayah-dayah di Aceh tidak begitu memfokuskan diri untuk mengajarkan peserta didiknya dengan pelajaran-pelajaran seperti Fikih Dakwah Kontemporer, pelajaran penulis artikel/karya ilmiah, Tarikh Islami, Tarikh Tasyri’, Ulumul Hadist, Ulumul Qur’an, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman saya, kedua pelajaran terakhir ini hanya diajarkan jika santri sudah berada pada kelas tertentu, yaitu kelas 6 hingga seterusnya. Atau setelah 6 tahun santri menimba ilmu di Dayah. Hal ini akan menjadi masalah sebab tidak semua santri bisa bersabar hingga 6 tahun untuk mondok di Dayah.
Hal ini misalnya seperti pengakuan beberapa peserta testing beasiswa kuliah untuk teungku/santri dayah di Depag Aceh beberapa bulan yang lalu. Beberapa peserta dari dayah yang padahal sudah ngaji kelas tinggi yakni jenjang kitab Al-Mahalli (Qalyubi wa Umairah), namun kesulitan untuk menjawab soal-soal testing seperti ulumul hadist dan sebagainya, sebab beberapa materi pelajaran ini tidak mereka terima saat belajar di dayah. Begitu juga misalnya seperti pengakuan seorang pimpinan dayah kepada saya beberapa waktu lalu, beliau menyebut bahwa merupakan PR besar bagi dayah untuk mereaktulisasi beberapa kurikulum pembelajarannya. Saya kira sudah saatnya dayah memberlakukan beberapa mata pelajaran ini ke dalam kurikulum pembelajaran secara ketat. Mislanya dengan menerapkannya untuk santri sejak kelas 1 atau 2. Dan saya pikir hal ini tidak sulit untuk dipraktekkan.
Selain itu, santri dayah tradisional juga tidak memiliki kelemahan karena tidak mampu berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kurikulum pelajaran bahasa Arab percakapan yang diajarkan di dayah-dayah tradisional. Hal ini misalnya juga seperti yang ditulis oleh teman saya, Tgk.Mahfudh Muhammad, metode pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan di dayah hanya terfokus pada qiraah (membaca), dan istima’ (mendengar). Sangat jarang menyentuh ranah kitabah (menulis) dan muhadatsah (berbicara). Para santri hanya membaca (menghafal) dan mendengar saja teks-teks Arab yang menjadi bahan kajian mereka, tanpa menulis dan berkomunikasi dengan bahasa Arab itu sendiri.
Implikasi dari hal ini menurut pengakuan Tgk.Mahfudh Muhammad yang merupakan dosen di STAI Al-Aziziyah Samalanga, dayah memang memiliki keunggulan dalam melahirkan kader ulama yang mampu membaca dan memahami “kitab gundul” secara mendalam, kemudian mentransfernya kepada murid dan masyarakat. Hal ini dapat difahami, karena dayah memfokuskan metode pembelajaran bahasa dari aspek qawa’id (grammar). Namun disisi lain, banyak santri dayah yang kurang mahir menulis tulisan Arab dan berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini adalah salah satu implikasi dari “keringnya” proses pembelajaran bahasa dari kitabah dan muhadatsah. Akibat lain dari “kekeringan” ini adalah orientasi menuntut ilmu di dayah tidak mencapai taraf melahirkan kitab-kitab ilmiah. Hal ini berbeda dengan ulama-ulama klasik. Setelah menuntut ilmu sekian lama, mereka menuangkan hasil pemikirannya dalam lembaran-lembaran kertas yang ditulis dalam bahasa Arab, sebagai salah satu amal jariyah yang tidak terputus pahalanya.
Selain itu, hingga saat ini Dayah-dayah tradisional di Aceh juga banyak yang belum begitu menganggap penting program tahfizhul Qur’an kepada para santri-santrinya. Padahal, kemampun hafal Alquran dan Hadist sangat dibutuhkan oleh para santri ketika kelak ia berbaur di masyarakat. Segudang persoalan masyarakat membutuhkan kemampunnya yang integral untuk membantu menyelesaikannya. Sebab, tentu saja kemampun fikih saja(sebagai pelajaran utama di Dayah) sangat tidak memadai untuk terjun ke masyarakat. Ataupun jika dipaksa, maka akan berakibat banyaknya persoalan yang diselesaikannya yang padahal justru lari dari paradigma Islam.
Sebenarnya, persoalan ini bahkan bisa dipecahkan hanya dalam jangka waktu minimal 3 atau 4 tahun. Caranya, dayah secara kolektif bisa melakukan sebuah terobosan dengan mengirim para santri-santrinya untuk belajar di tempat yang memiliki program bahasa Arab atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki kemampun untuk bersaing. Setelah santrinya menimba ilmu di tempat tersebut ia bisa ditugaskan untuk mengabdi di Dayahnya. Untuk pendanaan pihak Dayah bisa bekerja sama dengan pemerintah lewat Badan Pembinaan Pendidikan Dayah(BPPD), Baitul Mal atau yayasa penyandang dana (donator) lainnya. Atau bisa juga dayah-dayah mendirikan lembaga zakat sendiri sebagai bekal mensukseskan semua impian ini melalui organisasi persatuan dayah seperti Inshafuddin, HUDA, NU dan sebagainya. Demikian setitik pesan dan harapan dari seorang pelajar yang faqir lagi zha’if. Wallahu a’lam bishshawab.
Penulis adalah alumnus Dayah Babussalam Putra Matangkuli-Aceh Utara, dan pengajar di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkale.
Ide untuk menulis artikel ini sebenarnya merupakan kesimpulan pribadi setelah penulis melewati lika-liku pendidikan di dayah dan kampus. Reintegrasi (penyatuan kembali) konsep dan metodologi pendidikan dayah dan perguruan tinggi Islam akan menjadi model pendidikan Islam ideal di masa depan. Dalam hal ini, reaktulisasi kurikulum dayah saya rasa menjadi hal yang mendesak diberlakukan di dayah-dayah di Aceh. Reaktualisasi yang penulis maksdukan disini adalah penataan kembali kurikulum dayah agar mampu berkiprah dan menyesuaikan perannya dengan perkembangan zaman dan harapan masyarakat luas. Harus kita akui, stagnasi(kevakuman) kontribusi dayah dalam keilmuan kontemporer dewasa ini adalah karena dayah melepas diri dari motedologi dan kurikulum yang saat ini dikembangkan di perguruan tinggi Islam, seperti di pesantren modern, Ma’had ‘Aly, dan sebagainya. Dayah terkesan antipati terhadap pelajaran-pelajaran Islam kontemporer sekalipun.
Padahal, dalam sejarah Islam di Aceh, dari sisi normatif, dayah memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban. Tak jarang banyak ilmuan sosial baik dari dalam maupun dari luar negeri mencatat peran dayah ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kultural masyarakat Aceh dalam semua dimensi kehidupan. Sebut saja misalnya Martin Van Bruinessen, Islamisis berkembangsaan Belanda, ia menyatakan bahwa dayah tidak bisa saja kaya dengan berbagai literatur keilmuan, tetapi juga mampu memberikan konstribusinya bagi masyarakat di sekitarnya. Dayah bahkan telah menjadi sub kultur di tengah masyarakat. Pada tataran teritoral, ekspansi kontribusi dayah juga mencapai skala regional dan bahkan internasional.
Fakta bahwa kurikulum pendidikan di dayah yang tidak memenuhi standar untuk bergulat di kehidupan kontemporer pada skala regional dan internasional tentu saja merupakan sebuah PR besar yang harus diselesaikan secepatnya. Misalnya; hingga saat ini dayah-dayah di Aceh tidak begitu memfokuskan diri untuk mengajarkan peserta didiknya dengan pelajaran-pelajaran seperti Fikih Dakwah Kontemporer, pelajaran penulis artikel/karya ilmiah, Tarikh Islami, Tarikh Tasyri’, Ulumul Hadist, Ulumul Qur’an, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman saya, kedua pelajaran terakhir ini hanya diajarkan jika santri sudah berada pada kelas tertentu, yaitu kelas 6 hingga seterusnya. Atau setelah 6 tahun santri menimba ilmu di Dayah. Hal ini akan menjadi masalah sebab tidak semua santri bisa bersabar hingga 6 tahun untuk mondok di Dayah.
Hal ini misalnya seperti pengakuan beberapa peserta testing beasiswa kuliah untuk teungku/santri dayah di Depag Aceh beberapa bulan yang lalu. Beberapa peserta dari dayah yang padahal sudah ngaji kelas tinggi yakni jenjang kitab Al-Mahalli (Qalyubi wa Umairah), namun kesulitan untuk menjawab soal-soal testing seperti ulumul hadist dan sebagainya, sebab beberapa materi pelajaran ini tidak mereka terima saat belajar di dayah. Begitu juga misalnya seperti pengakuan seorang pimpinan dayah kepada saya beberapa waktu lalu, beliau menyebut bahwa merupakan PR besar bagi dayah untuk mereaktulisasi beberapa kurikulum pembelajarannya. Saya kira sudah saatnya dayah memberlakukan beberapa mata pelajaran ini ke dalam kurikulum pembelajaran secara ketat. Mislanya dengan menerapkannya untuk santri sejak kelas 1 atau 2. Dan saya pikir hal ini tidak sulit untuk dipraktekkan.
Selain itu, santri dayah tradisional juga tidak memiliki kelemahan karena tidak mampu berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kurikulum pelajaran bahasa Arab percakapan yang diajarkan di dayah-dayah tradisional. Hal ini misalnya juga seperti yang ditulis oleh teman saya, Tgk.Mahfudh Muhammad, metode pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan di dayah hanya terfokus pada qiraah (membaca), dan istima’ (mendengar). Sangat jarang menyentuh ranah kitabah (menulis) dan muhadatsah (berbicara). Para santri hanya membaca (menghafal) dan mendengar saja teks-teks Arab yang menjadi bahan kajian mereka, tanpa menulis dan berkomunikasi dengan bahasa Arab itu sendiri.
Implikasi dari hal ini menurut pengakuan Tgk.Mahfudh Muhammad yang merupakan dosen di STAI Al-Aziziyah Samalanga, dayah memang memiliki keunggulan dalam melahirkan kader ulama yang mampu membaca dan memahami “kitab gundul” secara mendalam, kemudian mentransfernya kepada murid dan masyarakat. Hal ini dapat difahami, karena dayah memfokuskan metode pembelajaran bahasa dari aspek qawa’id (grammar). Namun disisi lain, banyak santri dayah yang kurang mahir menulis tulisan Arab dan berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini adalah salah satu implikasi dari “keringnya” proses pembelajaran bahasa dari kitabah dan muhadatsah. Akibat lain dari “kekeringan” ini adalah orientasi menuntut ilmu di dayah tidak mencapai taraf melahirkan kitab-kitab ilmiah. Hal ini berbeda dengan ulama-ulama klasik. Setelah menuntut ilmu sekian lama, mereka menuangkan hasil pemikirannya dalam lembaran-lembaran kertas yang ditulis dalam bahasa Arab, sebagai salah satu amal jariyah yang tidak terputus pahalanya.
Selain itu, hingga saat ini Dayah-dayah tradisional di Aceh juga banyak yang belum begitu menganggap penting program tahfizhul Qur’an kepada para santri-santrinya. Padahal, kemampun hafal Alquran dan Hadist sangat dibutuhkan oleh para santri ketika kelak ia berbaur di masyarakat. Segudang persoalan masyarakat membutuhkan kemampunnya yang integral untuk membantu menyelesaikannya. Sebab, tentu saja kemampun fikih saja(sebagai pelajaran utama di Dayah) sangat tidak memadai untuk terjun ke masyarakat. Ataupun jika dipaksa, maka akan berakibat banyaknya persoalan yang diselesaikannya yang padahal justru lari dari paradigma Islam.
Sebenarnya, persoalan ini bahkan bisa dipecahkan hanya dalam jangka waktu minimal 3 atau 4 tahun. Caranya, dayah secara kolektif bisa melakukan sebuah terobosan dengan mengirim para santri-santrinya untuk belajar di tempat yang memiliki program bahasa Arab atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki kemampun untuk bersaing. Setelah santrinya menimba ilmu di tempat tersebut ia bisa ditugaskan untuk mengabdi di Dayahnya. Untuk pendanaan pihak Dayah bisa bekerja sama dengan pemerintah lewat Badan Pembinaan Pendidikan Dayah(BPPD), Baitul Mal atau yayasa penyandang dana (donator) lainnya. Atau bisa juga dayah-dayah mendirikan lembaga zakat sendiri sebagai bekal mensukseskan semua impian ini melalui organisasi persatuan dayah seperti Inshafuddin, HUDA, NU dan sebagainya. Demikian setitik pesan dan harapan dari seorang pelajar yang faqir lagi zha’if. Wallahu a’lam bishshawab.
Penulis adalah alumnus Dayah Babussalam Putra Matangkuli-Aceh Utara, dan pengajar di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkale.
Selasa, 07 September 2010
Kriteria Pemimpin Aceh

Kriteria Pemimpin Aceh
Oleh Teuku Zulkhairi
Ada yang menarik beberapa waktu lalu ketika saya membaca opini Aryos Nivada dengan judul ‘Misteri Aceh 1’(serambi/23/10). Aryos mencoba memberikan informasi dan analisa penting kepada rakyat(pembaca) tentang gejolak politik Aceh yang saat ini sudah mulai terbaca dan memanas. Aryos menyebut beberapa tokoh yang diyakininya bakal maju sebagai kandidat Aceh 1 (Gubernur) pada pilgub tahun depan(2011). Misalnya seperti Malek Mahmud, Darni Daud, Muhammad Nazar, Mawardy Nurdin dan sebagainya. Meski analisa Aryos dan juga analisa saya nantinya akan terkesan prematur, namun apa yang ditulis Aryos tentu saja berdasarkan aura dan syahwat politik masing-masing pihak yang hari ini yang sudah bisa dilacak. Informasi dan analisa seperti ini sangat penting dilemparkan kepada publik, agar masyarakat sedini mungkin mengenal calon pemimpin mereka. Meski pada tataran discourse analisis saya punya telaah analisa yang berbeda dengan Aryos terkait konstalasi politik yang mungkin terjadi pada 2011 mendatang.
Saya melihat, pemimpin saat ini yang dipilih rakyat karena euforia GAM masa lalu tidak akan mendapatkan lagi dukungan secara signifikan pada 2011 nanti. Sebab, rakyat Aceh dalam sejarahnya selalu menggilirkan kepercayaan dan hasrat politik mereka. Apalagi faktanya, beberapa kabupaten yang dipimpin kelompok ini dinilai gagal dalam memajukan daerahnya. Kaum nasionalis keindonesiaan yang diwakili Golkar pernah berjaya di Aceh. Begitu juga PPP yang pernah mendapatkan mendapatkan tempat dalam hati rakyat Aceh. Rakyat Aceh juga sudah memberikan kepercayaannya kepada Partai nasionalis religious, Demokrat.
Sebab itu, saya melihat 2011 akan terjadi perubahan konstalasi politik di Aceh. Sebelum era Irwandi- Nazar, pucuk kepemimpinan di Aceh dipegang secara bergilir oleh tokoh-tokoh dari partai Nasional. Dalam periode kepemimpinan tersebut, rakyat Aceh faktanya terus menerus berada dalam kubangan ketertinggalan dari semua aspek sisi kemajuan, keadilan dan kesejahteraan. Jumlah pendudukan miskin dengan angka yang sangat fantastis, mutu pendidikan yang sangat terbelakang, pembangunan fisik yang sangak ketinggalan, kebebasan politik yang terkekang, tingkat kesejahteraan yang dibawah rata-rata secara nasional, itulah gambaran singkat kepapaan rakyat Aceh masa lalu dibawah rezim partai Nasional.
Maka atas dasar ini, kita meyakini bahwa penguasa saat ini yang diyakini semua kalangan telah gagal(meski tidak kita katakan gatal alias gagal total) membawa rakyat Aceh ke gerbang pintu kesejahteraan tidak akan lagi menjadi pilihan mayoritas rakyat pada pilkadasung 2012 nanti. Kemudian mari kita melihat ke partai Nasional, sepertinya parnas tidak akan lagi menjadi kekuatan dominan di Aceh, apalagi dengan realita sekarang Partai Demokrat yang menjadi pemenang kedua pemilu legislative dan eksekutif tahun yang lalu kini mengalami krisis kepercayaan publik dan pesonanya pun telah redup pasca kasus Century dan berbagai kasus lainnya. Mengenai peluang Golkar, saya kira partai ini tidak akan lagi menjadi penguasa dominan di Aceh mengingat sejarah suram rakyat Aceh bersama mereka sejak beberapa dasawarsa yang lalu hingga kini, penuh dengan warna pragmatisme.
Selain tokoh-tokoh yang disebutkan Aryos, saya masih yakin beberapa tokoh atau kekuatan terselubung yang selama ini belum diperhitungkan akan muncul dan membesar beberapa waktu ke depan. Misalnya, saya melihat kekuatan-kekuatan NGO atau LSM akan muncul menjelang pilgub tahun depan yang bisa jadi akan memilih stok lain selain Otto Syamsuddin Ishak. Misalnya Teuku Kamaruzzaman mantan sekretaris BRR itu yang juga sudah mengisyaratkan akan berpartisipasi jika peluang itu terbuka. Begitu juga kekuatan-kekuatan parpol menengah seperti PKS yang saya yakini masih akan mempercayakan kader terbaiknya Nasir Djamil untuk menuju Aceh 1. Khusus untuk partai ini, kita memang sulit menebak, sebab situasi internal mereka dirasa sangat kondusif, namun mereka bekerja sacara pasti dan all out. Hal ini terbaca misalnya saat mereka mengadakan pemilihan untuk memilih struktur pengurus baru, tidak ada kampanye-kampanye, saling sikut dan perang media sebagaimana halnya parpol-parpol lain. Jadi, potensi Nasir Djamil meramaikan bursa pilgub 2011 sangat besar.
Selain itu, melihat geliat dan aksi bawah tanah yang tercium, saya melihat kekuatan-kekuatan dari kelompok agamawan dan kaum santri juga akan ikut meramaikan pilgub 2011. Kekuatan mereka saat ini memang belum terbaca, sebab belum ada deklerasi maupun pernyataan resmi atau resmi dari tokoh-tokoh mereka. Mungkin karena doktrin agama yang mereka terima bahwa jabatan itu bukan dicari, namun diberikan. Bahwa jabatan itu bukan suatu kebanggaan(tafrih), melainkan pemberatan akan tanggung jawab (taklif). Bahkan, kaum agamawan ini merupakan satu-satunya kelompok yang belum tampil sebagai pemegang kendali Aceh di era kontemporer. Sementara itu, tokoh-tokoh lain seperti Tarmizi A Karim yang dinilai sukses sebagai Pjs Gubernur Kaltim beberapa waktu lalu diyakin juga akan ikut telibat. Tokoh-tokoh ini mungkin akan mendapat dukungan dari partai menengah(parpol Islam). Jika peluang menuju Aceh 1 pada 2011 dibuka lewat jalur independen, bahkan saya yakin Tarmizi A Karim pasti akan ikut serta.
Kriteria Pemimpin Aceh
Namun dibalik semua itu, ada satu kecemasan dan kegelisahan saya selama ini. Kita paham bahwa jabatan dalam Islam adalah sesuatu yang berat, bukan posisi yang harus dikejar apalagi jika harus mengiba dan mengemis kepada rakyat atau memaksa agar memberikannya jabatan. Fakta yang terjadi, idelisme Islam ini menjadi hal yang sulit kita jumpai dipraktekkan oleh para pemimpin di zaman ini. Sangat sulit mencari pemimpin yang jabatannya diperoleh bukan lewat jalur meminta-minta dengan berbagai bentuknya. Memang jabatan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan setiap manusia. Karena disitu terdapat kamasyhuran, ketenaran, kehormatan dan kemapanan sosial ekonomi. Karena itu wajarlah ketika Rasulullah saw menyebutkan bahwa tidaklah dua ekor srigala lapar yang dilepas kepada kerumunan kambing lebih merusak agama daripada ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan.” (HR. Tirmidzi).
Dan tidak jarang ambisi seseorang terhadap jabatan menutupi akal sehatnya bahkan meredupkan keimanannya kepada Allah swt. Banyak mengajar jabatan dengan cara-cara yang diharamkan agama, seperti suap, menzhalimi kompetitornya, membohongi rakyatnya atau yang lainnya. Sangat mungkin mereka yang melakukannya mengetahui betul bahwa itu semua diharamkan dan dilarang oleh agama.
Jabatan adalah amanah yang kebanyakan orang tidak mampu menunaikannya dengan baik kecuali orang-orang dirahmati dan dibantu oleh Allah swt. Karena itu islam mengharuskan mereka yang menduduki jabatan (kekuasaan) adalah orang-orang yang mampu dan kuat terhadap berbagai bujuk rayu setan yang mengajaknya menyalahi janji jabatannya dan menyimpang darinya. Rasulullah saw tidak memberikan jabatan kepada orang-orang yang memintanya karena itu adalah tanda ambisiusnya, yang kebanyakan nafsunya melebihi kemampuannya sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah bahwa Nabi saw bersabda,”Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta imarah (jabatan, kepemimpinan). Sesungguhnya jika engkau diberikannya karena memintanya maka engkau tidak akan dibantu.” (HR. Bukhari). Al Hafizh Ibnu hajar mengatakan bahwa makna dari hadits tersebut adalah siapa yang meminta jabatan dan diberikan kepadanya maka dia tidak akan dibantu dikarenakan ambisinya. Artinya, bahwa meminta apa-apa yang berkaitan dengan hukum adalah makruh, termasuk didalam imarah adalah hakim, pengawas dan lainnya. Maka, siapa yang berambisi dengan hal itu niscaya tidak akan dibantu.
Sebagai umat Islam, tentu saja kita harus melihat segala sesuatu berdasarkan perspektif Islam(Alquran dan Hadist). Tidak ada pemisahan antara agama dan dunia. Orang-orang yang akan selamat dunia dan akhirat adalah meraka yang senantiasa berpegang teguh kepada Alquran dan Hadist. Pemimpin rakyat Aceh 2011 bukanlah mereka yang meminta dipilih, bukanlah mereka yang mengejar jabatan. Pemimpin rakyat Aceh 2011 adalah mereka yang memiliki karakteristik atau Sifat-sifat Rasulullah.
Misalnya, Pertama, Shiddiq atau berperilaku benar, baik dalam keyakinannya maupun dalam kata-katanya, dan benar dalam tindakannya. Satu kata dan perbuatan. Benar dalam ibadahnya, dalam kebijaksananya, dan pada keberpihakannya pada kebaikan. Kedua, Tabligh (aspiratif). Menyampaikan suatu tanpa menyembunyikan kepada rakyatnya untuk tujuan kebaikan dan kemajuan bangsanya. Tanggungjawab sebagai pemimpin merupakan suatu kepercayaan dan wewenang yang diberikan untuk memperbaiki kehidupan orang yang dipimpinnya. Artinya, ketika seseorang menjadi seorang pemimpin, benar-benar memiliki kesempatan penuh untuk menyejahtreakan kehidupan rakyat banyak. Islam mengajarkan, bahwa manusia yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain.
Ketiga, Amanah(dapat dipercaya). Seorang pemimpin yang baik tidak akan berkhianat dalam menjalankan amanah rakyat yang telah memberikannya jabatan. Pemimpin itu dikatakan amanah bila ia tidak menyalahgunakan wewenangnya dan jabatannya untuk kepentingan duniawi yang sempit. Aspek masuliyat (pertanggungjawaban) suatu keniscayaan dan unsur paling esensi dalam kepemimpinan. Wajar jika jabatan itu dapat menghantarkan seseorang pada derajat yang paling tinggi, atau sebaliknya menjerumuskannya pada jurang kehinaan. Rasulullah saw bersabda: Bahwa jabatan itu amanah, dan ia di hari Kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang haq, serta menunaikan kewajiban yang terpikul di atas pundaknya. (HR. Muslim). Keempat, Fathanah (cerdas). Cerdas di sini baik spiritual maupun intelektual. Juga cerdas secara emosional dan sosial. Apalagi dalam dunia yang krisis mengglobal saat ini serta setumpuk permasalahan yang belum terselesaikan, maka seorang anggota pemimpin harus memilki kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat yang diwakilinya dengan konsep Islam.
Sifat Rasulullah ini harus melekat erat pada diri pemimpin Aceh nanti. Baik tidaknya pemimpin Aceh dimasa depan adalah tergantung bagaimana rakyat Aceh sendiri. Mengutip kata-kata Imam Malik, ’bahwa Manusia itu akan mengikuti agama dan sifat pemimpin mereka’. Mau kemana akan kita bawa Aceh ke depan adalah tergantung siapa pemimpin Aceh. Wallahu a’lam bishshsawab.
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Kamis, 19 Agustus 2010
Membangun Mentalitas Pembangunan
Membangun Mentalitas Pembangunan
Oleh Teuku Zulkhairi
Tahun 2000 silam, saat pulang dari sekolah saya melihat petugas Telkom sibuk memasang telpon umum di kecamatan saya. Saya begitu gembira karena beberapa hari kemudian saya yakin dengan berbekal koin minimal 100 Rupiah sudah bisa memakai jasa telpon tersebut. Tapi apa yang terjadi, seminggu setelah dipasang, telpon tersebut rusak. Perusakan itu diyakini warga sekitar terjadi di malam hari. Niat saya pun gagal memanfaatkan sebelum akhirnya petugas Telkom memperbaikinya kembali.
Kasus lainnya, sebuah meunasah baru selesai dibangun lengkap dengan WCnya. Beberapa bulan kemudian, WC di meunasah tersebut sudah tidak layak lagi dipakai karena sudah sangat kotor dan jorok . Para pemakai jasanya hanya menggunakan haknya untuk memakai jasa WC tersebut, sementara kewajiban untuk membersihkannya tidak diindahkan. Lama kelamaan, WC tersebut pun ditinggalkan. Bahkan kemudian tersebar kabar di WC tersebut ada makhluk halus sehingga bangunan WC tersebut akhirnya dirobohkan. Sekitar setahun kemudian, saya lihat sudah dibangun WC baru sekitar meunasah tersebut dan beberapa minggu kemudian terlihat WC tersebut terlihat nampak kotor dan jorok.
Kedua kasus tersebut merupakan indikasi bahwa pembangunan mental lebih penting daripada pembangunan fisik. Kesiapan mental adalah salah satu kunci suksesnya semua agenda pembangunan yang dicanangkan. Sebaliknya, ketidaksiapan mental merupakan alasan terbesar gagalnya berbagai program pembanguan yang dijalankan. Sejauh ini, faktanya pembangunan fisik lebih digalakkan daripada pembangunan mental.
Sementara jika kita menuju ke Kota, kita akan mendapati indikator lainnya ketidaksiapan mental pembangunan yang dilakonkan oleh para pejabat Negara, dan bahkan oleh mereka yang dijuluki sebagai kaum terpelajar. Lihatlah berbagai kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang senantiasa menghiasi media massa kita. Para pelakunya adalah pejabat Negara yang mengerti betul tentang hukum-hukum Negara. Hal ini merupakan indikasi bahwa ketidaksiapan mental menuju era pembangunan seperti saat ini - menimpa hampir semua elemen masyarakat kita. Kasus-kasus KKN yang sering menghiasi media massa kita tentu saja juga merupakan kendala mental terbesar lainnya yang menghambat laju pembangunan di negeri kita.
Dalam buku ‘Pencerahan Mental, Kluthon menyebut ada 4 (empat) teori untuk mengukur sejauh mana perkembangan mental sebuah bangsa atau komunitas masyarakat dalam menyongsong era pembangunan. Kluthon menghimpunnya dalam lima sektor.
Pertama, Waktu. Manusia yang ‘maju’ senantiasa melihat ke depan. Ia tidak bangga dengan kebesaran masa lalunya. Tekadanya adalah bagaimana membangun masa depan yang gilang gemilang, baik dalam konteks individual maupun masyarakat secara kolektif. Sedang manusia yang ‘terbelakang’ justru terlena dan terbuai dengan masa lalu dan terus melihat masa lalu tanpa usaha dan tekad keras menuju masa depan yang lebih baik.
Kedua, Manusia. Manusia yang maju merupakan kumpulan individu-individu yang baik. Menghargai jasa orang lain. Disiplin menjaga waktu dan menjalankan tugasnya. Berjiwa membangun. Tidak egois. Saling tolong menolong. Tidak korup dan berbagai kebaikan lainnya. Sementara manusia yang terbelakang adalah sebaliknya, yaitu; Korup, egoistik, individualistic, sinkretistik, kapitalistik dan berbagai keburukan lainnya. Ketiga, Alam. Keadaan alam dibawah kendali masyarakat yang maju adalah lestari. Sedang keadaan alam dibawah kuasa masyarakat terbelakang adalah ‘ekploitasi’, penebangan hutan terjadi secara sistemik, sehingga alam seringkali marah pada manusia akibat ulah manusia-manusia terbelakang secara mental tersebut.
Keempat, Kerja. Masyarakat maju bekerja karena ingin bekerja, karena kerja harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Sedangkan masyarakat terbelakang secara mental bekerja karena kebutuhan. Bekerja hanya untuk mencari materi. Kelima, Dunia. Masyarakat yang maju melihat dunia ini sebagai sebuah peluang untuk membuka deposito amal sebanyak-banyaknya, sehingga dunia ini menjadi berharga dengan kehadirannya. Sedangkan masyarakat yang terbelakang secara mental tersebut, keberadaannya justru akan mengacaukan dunia yang damai. Bertabi’at perusuh, merusak, korup dan sebagainya sehingga dunia menjadi tidak berharga/sia-sia dengan keberadaannya.
Dengan ke lima teori ini, kita bisa mengukur sejauh mana problema mental yang menghinggap masyarakat dan Negara kita secara umum serta kemudian menjadi bahan evaluasi bagi kita dalam merancang jalannya pembangunan ke depan. Bahwa bangsa yang maju bukanlah diukur dengan kemajuan dalam sektor fisik. Keberhasilan pembangunan dalam sebuah Negara diukur secara mental. Apabila masyarakat telah siap secara mental, berbagai program pembangunan akan berjalan dengan mulus. Dan solusinya adalah melalui pembangunan mental dan agama yang intinya adalah 'pendidikan’ yang bisa melahirkan manusia-manusia yang memilki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam).
Pemerintah harus benar-benar menjadikan sektor pendidikan dan agama sebagai bagian terpenting dan unggulan dari semua agenda pembangunan lain. Jangan lagi kita mendengar ada anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah, belajar di pesantren, dan atau kuliah. Jangan lagi kita mendengat beasiswa santri dipotong. Atau anggaran untuk dayah atau kampus dipangkas seperti dalam anggaran tahun 2010 ini. Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis adalah ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Oleh Teuku Zulkhairi
Tahun 2000 silam, saat pulang dari sekolah saya melihat petugas Telkom sibuk memasang telpon umum di kecamatan saya. Saya begitu gembira karena beberapa hari kemudian saya yakin dengan berbekal koin minimal 100 Rupiah sudah bisa memakai jasa telpon tersebut. Tapi apa yang terjadi, seminggu setelah dipasang, telpon tersebut rusak. Perusakan itu diyakini warga sekitar terjadi di malam hari. Niat saya pun gagal memanfaatkan sebelum akhirnya petugas Telkom memperbaikinya kembali.
Kasus lainnya, sebuah meunasah baru selesai dibangun lengkap dengan WCnya. Beberapa bulan kemudian, WC di meunasah tersebut sudah tidak layak lagi dipakai karena sudah sangat kotor dan jorok . Para pemakai jasanya hanya menggunakan haknya untuk memakai jasa WC tersebut, sementara kewajiban untuk membersihkannya tidak diindahkan. Lama kelamaan, WC tersebut pun ditinggalkan. Bahkan kemudian tersebar kabar di WC tersebut ada makhluk halus sehingga bangunan WC tersebut akhirnya dirobohkan. Sekitar setahun kemudian, saya lihat sudah dibangun WC baru sekitar meunasah tersebut dan beberapa minggu kemudian terlihat WC tersebut terlihat nampak kotor dan jorok.
Kedua kasus tersebut merupakan indikasi bahwa pembangunan mental lebih penting daripada pembangunan fisik. Kesiapan mental adalah salah satu kunci suksesnya semua agenda pembangunan yang dicanangkan. Sebaliknya, ketidaksiapan mental merupakan alasan terbesar gagalnya berbagai program pembanguan yang dijalankan. Sejauh ini, faktanya pembangunan fisik lebih digalakkan daripada pembangunan mental.
Sementara jika kita menuju ke Kota, kita akan mendapati indikator lainnya ketidaksiapan mental pembangunan yang dilakonkan oleh para pejabat Negara, dan bahkan oleh mereka yang dijuluki sebagai kaum terpelajar. Lihatlah berbagai kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang senantiasa menghiasi media massa kita. Para pelakunya adalah pejabat Negara yang mengerti betul tentang hukum-hukum Negara. Hal ini merupakan indikasi bahwa ketidaksiapan mental menuju era pembangunan seperti saat ini - menimpa hampir semua elemen masyarakat kita. Kasus-kasus KKN yang sering menghiasi media massa kita tentu saja juga merupakan kendala mental terbesar lainnya yang menghambat laju pembangunan di negeri kita.
Dalam buku ‘Pencerahan Mental, Kluthon menyebut ada 4 (empat) teori untuk mengukur sejauh mana perkembangan mental sebuah bangsa atau komunitas masyarakat dalam menyongsong era pembangunan. Kluthon menghimpunnya dalam lima sektor.
Pertama, Waktu. Manusia yang ‘maju’ senantiasa melihat ke depan. Ia tidak bangga dengan kebesaran masa lalunya. Tekadanya adalah bagaimana membangun masa depan yang gilang gemilang, baik dalam konteks individual maupun masyarakat secara kolektif. Sedang manusia yang ‘terbelakang’ justru terlena dan terbuai dengan masa lalu dan terus melihat masa lalu tanpa usaha dan tekad keras menuju masa depan yang lebih baik.
Kedua, Manusia. Manusia yang maju merupakan kumpulan individu-individu yang baik. Menghargai jasa orang lain. Disiplin menjaga waktu dan menjalankan tugasnya. Berjiwa membangun. Tidak egois. Saling tolong menolong. Tidak korup dan berbagai kebaikan lainnya. Sementara manusia yang terbelakang adalah sebaliknya, yaitu; Korup, egoistik, individualistic, sinkretistik, kapitalistik dan berbagai keburukan lainnya. Ketiga, Alam. Keadaan alam dibawah kendali masyarakat yang maju adalah lestari. Sedang keadaan alam dibawah kuasa masyarakat terbelakang adalah ‘ekploitasi’, penebangan hutan terjadi secara sistemik, sehingga alam seringkali marah pada manusia akibat ulah manusia-manusia terbelakang secara mental tersebut.
Keempat, Kerja. Masyarakat maju bekerja karena ingin bekerja, karena kerja harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Sedangkan masyarakat terbelakang secara mental bekerja karena kebutuhan. Bekerja hanya untuk mencari materi. Kelima, Dunia. Masyarakat yang maju melihat dunia ini sebagai sebuah peluang untuk membuka deposito amal sebanyak-banyaknya, sehingga dunia ini menjadi berharga dengan kehadirannya. Sedangkan masyarakat yang terbelakang secara mental tersebut, keberadaannya justru akan mengacaukan dunia yang damai. Bertabi’at perusuh, merusak, korup dan sebagainya sehingga dunia menjadi tidak berharga/sia-sia dengan keberadaannya.
Dengan ke lima teori ini, kita bisa mengukur sejauh mana problema mental yang menghinggap masyarakat dan Negara kita secara umum serta kemudian menjadi bahan evaluasi bagi kita dalam merancang jalannya pembangunan ke depan. Bahwa bangsa yang maju bukanlah diukur dengan kemajuan dalam sektor fisik. Keberhasilan pembangunan dalam sebuah Negara diukur secara mental. Apabila masyarakat telah siap secara mental, berbagai program pembangunan akan berjalan dengan mulus. Dan solusinya adalah melalui pembangunan mental dan agama yang intinya adalah 'pendidikan’ yang bisa melahirkan manusia-manusia yang memilki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam).
Pemerintah harus benar-benar menjadikan sektor pendidikan dan agama sebagai bagian terpenting dan unggulan dari semua agenda pembangunan lain. Jangan lagi kita mendengar ada anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah, belajar di pesantren, dan atau kuliah. Jangan lagi kita mendengat beasiswa santri dipotong. Atau anggaran untuk dayah atau kampus dipangkas seperti dalam anggaran tahun 2010 ini. Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis adalah ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Minggu, 11 Juli 2010
Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Tokoh Pelopor Pendidikan Islam Di Aceh

BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang Permasalahan
Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan nama seorang ulama besar di Aceh. Sebagian besar ulama Aceh generasi tua yang sudah meninggal maupun yang masih hidup hingga saat ini merupakan para santri yang dahulunya pernah menimba ilmu kepada beliau. Hampir semua murid beliau tersebut mendirikan lembaga pendidikan Islam dayah di berbagai kabupaten di Aceh. Kita ketahui, bahwa dayah merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang sangat berpengaruh dalam membentuk tatanan budaya,adat dan pendidikan masyarakat Aceh. Bahkan, dayah merupakan sub sistem dalam kehidupan masyarakat Aceh secara umum. Dimasa lalu, dayah merupakan lembaga pendidikan yang cukup disegani di Aceh. Sumbangsih dayah untuk masyarakat Aceh melebihi apa yang diberikan oleh sekolah umum lainnya.
Atas dasar ini, penulis berinisiatif membuat makalah yang ada dihadapan Anda ini dengan topik; ”Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Tokoh Pelopor Pendidikan Islam Di Aceh”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar balakang masalah di atas, ada beberapa pokok permasalahan yang dapat dikaji di antaranya:
1. Bagaimana riwayat hidup dan pendidikan Tgk.H.Hasan Krueng Kalee?
2. Bagaimana kiprah beliau dalam mempelopori pendidikan Islam di Aceh?
1.3. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya ruang lingkup pembahasan tentang sosol Tgk.H.Hasan Krueng Kalee dan sepak terjang beliau selama hidupnya, maka penulis membatasi penulisan makalah ini hanya dalam ruang lingkup kiprah beliau dalam mempelopori pendidikan Islam di Aceh saja, tidak dalam bidang lain seperti politik ataupun pemerintahan.
1.4. Kegunaan Pembahasan
Penulisan makalah ilmiah berjudul ”Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Tokoh Pelopor Pendidikan Islam Di Aceh” penulis maksudkan untuk:
a. Menjelaskan kepada pembaca riwayat hidup dan pendidikan Tgk.H.Hasan Krueng Kalee selama hidupnya serta perannya dalam mempelopori pendidikan Islam di Aceh.
b. Tujuan utama, yaitu untuk menunaikan salah satu tugas di perkuliahan, materi kuliah ”Perkembangan Pemkiran Islam” yang diasuh oleh Dr.Syamsul Rijal, M.Ag.
1.5. Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Deskriptif adalah dengan cara mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, kemudian dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas. Sedangkan analisis adalah dengan mengadakan perincian terhadap masalah yang diteliti. Kajian ini dilakukan melalui kepustakaan (library reseach). Dan pencarian data yang dilakukan adalah dengan melihat beberapa buku sejarah Islam serta berbagai sumber lainnya.
1.6. Sistematika Penulisan
Supaya penulisan menjadi terarah dan tidak tumpang tindih antara satu bab dengan yang lain maka perlu dikemukakan pula mengenai sistematika penulisan. Karya tulis ilmiah ini penulisannya dimulai dengan bab satu berupa pendahaluan yang berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah, kegunaan, pembahasan, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab ini penting untuk melihat problematika yang ada dan perlu dijawab dengan segera dalam bentuk makalah ilmiah. Selanjutnya pada bab ke dua membahas tentang ”Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Tokoh Pelopor Pendidikan Islam Di Aceh”. Karya tulis ilmiah ini diakhiri dengan penutup yang berisi kesimpulan, yaitu pada bab ketiga.
BAB II
TGK H.HASAN KRUENG KALEE,
TOKOH PELOPOR PENDIDIKAN ISLAM DI ACEH
2.1. Riwayat Hidup
Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan seorang ulama besar di Aceh. Beliau lahir pada tanggal 15 Rajab tahun 1303 H (18 April 1886) dalam pengungsian di Meunasah Ketembu, kemukiman Sangeue, kabupaten Pidie setelah tiga belas tahun peperangan dahsyat berkecamuk di Aceh antara prajurit kerajaan beserta rakyat Aceh dengan serdadu-serdadu agresor Belanda . Tgk.H.Hasan Krueng Kale dilahirkan disana sewaktu orang tuanya pindah dari Kutaraja(Banda Aceh sekarang) dalam rangka mempertahankan ide-idenya untuk memperjuangkan Islam dari cengkeraman kolonialisme penjajahan kafir Belanda .
Beliau adalah anak yang pertama dari seorang ulama besar di Aceh, yaitu Tgk.H.Muhammad Hanafiah (Tgk.Chik Krueng Kalee 1) dan lebih dikenal dengan sebutan Tgk.Haji Muda, seorang ulama besar yang memimpin Dayah Krueng Kalee yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Ayahnya tersebut merupakan sahabat karib dari pahlawan nasional Teungku Syekh Muhammad Saman Tiro (Teungku Cik Di Tiro). Ayah dari Tgk.H.Muhammad Hanafiah ini juga seorang ulama besar yang bernama Tgk. Syekh Abbas, putra dari seorang ulama besar pula yang bernama Tgk.Syehk Muhammad Fadlil. Menurut catatan sebuah dokumen keluarga ulama Krueng Kalee, ayah dari Tgk.Syekh Muhammad Fadlil juga seorang ulama besar; demikian pula ayahnya lagi hatta tujuh turunan dari atas sampai kepada Hasan yang lahir pada tanggal 13 Rajab 1303 H. Para ulama besar tujuh keturunan ini adalah yang memimpin dan membangun dayah Krueng Kalee, sebuah lembaga perguruan Islam yang cukup terkenal di Aceh, bahkan di seluruh Sumatra. Setelah keratin Darut Dunia hancur menjadi puing dan ibukota Negara, Banda Aceh Darussalam, telah diduduki tentara Belanda serta pusat pemerintah Kerajaan Aceh telah dipindahkan ke pedalaman ,yitu ke Keumala Dalam di Kabupaten Pidie, maka Teungku Haji Muhammad Hanafiah sebagai salah seorang mujahid ikut pindah bersama kelurganya ke Kabupaten Pidie dengan tempat pemukiman di Kampung Menasah Ketembu, dan disanalah lahir putranya yang pertama: Hasan.
Sedangkan ibunya bernama Nyak Ti Hafsah binti Syekh Ismail. Tgk syek Ismail ini lebih dikenal dengan nama Tgk Chik Krueng Kalee II, yaitu anak dari Abdul Manik keturunan Arab yang datang melalui Pasee. Sebelum beliau berada di Pasee, lahirlah seorang putranya yang diberi nama dengan Ismail. Sebagai seorang da’i, beliau telah berjasa mengembangkan dakwah Islamiyah dari satu daerah ke daerah lain sehingga perjalanan beliau sampailah ke daerah Krueng Kalee.
Ketika sampai di Krueng Kalee, beliau menetap di daerah tersebut sehingga memperoleh keturunan. Diantara keturunan beliau tersebut adalah; Hafsah(Istri Tgk Muhammad Hanafiah), kemudian putranya Tgk Haji Hanafiah yang bernama Muhammad Hasan (Tgk.H.Hasan Krueng Kalee) menikah dengan seorang putri dari panglima Husen yang bernama Safiah. Menurut Muhammad Said dalam bukunya ’Atjeh Sepanjang Abad’, Tgk Syiah ini adalah nama seorang bangsa Arab yang datang ke Aceh, lebih kurang tahun 1564-1568 M. Beliau adalah salah seorang anggota utusan dari 40 orang yang dikirim oleh Sultan Turki ke Aceh, bersama 200 meriam tembaga.
Rombongan tersebut dikirim ke Aceh dalam rangka membantu Kerajaan Aceh yang dalam keadaan resah dan gelisah seirng datangnya para penajajah yang mencoba menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam. Dan juga sebagai akibat perang yang timbul di Aceh karena serang Portugis. Di antara utusan-utusan yang dikirim itu ada yang menjadi penasehat dalam bidang Agama, militer, dan bidang pemerintahan umum lainnya.
Beliau mempunyai tiga orang istri. Istri pertama beliau bernama Nyak Safiah anak dari Panglima Husen bin Panglima Muhammad bin Panglima Gapeh, beliau adalah seorang anak Tuan Panglima Meuntroe (Menteri) di Montasik dilahirkan di Keudah Malaysia. Hajjah Nyak Safiah adalah seorang putri penglima Husen, kemudian putri panglima Husen tersebut setelah berumur lebih kurang 10 tahun dinikahkan oleh Tgk Syekh Muhammad Arsyad (kawan akrab panglima Husen Keudah Malaysia) dengan seorang murid beliau yang berasal dari Aceh yang bernama Tgk.H.Hasan Krueng Kalee. Istri Beliau yang kedua bernama Aisyah (Nyak Payet) yang berasal dari Manyak Payet-Aceh Timur binti Tgk Su’ud bin Abbas yakni paman beliau sendiri. Adik ayahnya yang lain ibu dengan Tgk Haji Muda (Tgk Haji Hanafiah). Sedangkan isteri beliau yang ketiga bernama Nyak Awan binti Ishaq. Tgk Ishak ini adalah cucu Tgk Chik Lam Seunong, kecamatan Kuta Baru-Aceh Besar. Beliau adalah guru Tgk Haji Muda (Tgk Haji Hanafiah). Dari ketiga isterinya ini Tgk.H.Hasan Krueng Kalee dianugrhakan lima belas orang anak, sembilan putra dan enam putri.Dari pengakuan dan data-data cucu-cucu beliau, Tgk.H.Hasan Krueng Kalee meninggal pada tanggal 19 Januari 1973, bertepatan dengan 14 Zulhijjah 1392 Hijrah, jam 02.45. Beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia 90 tahun di Krueng Kalee, desa Siem, kecamatan Darussalam-Aceh Besar.
Oleh sebab itu, nama Tgk.H.Hasan Krueng Kalee yang dikenal oleh masyarakat kecamatan Darussalam khususnya dan masyarakat Aceh umumnya adalah dinisbahkan kepada daerah tempat beliau mendirikan dayah serta tempat beliau meninggal. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee juga dikenal dengan Tgk.H.Syekh Hasan Krueng Kalee atau juga dikenal dengan nama panggilannya Tgk Dian. Beliau hanya mempunyai seorang saudara laki-laki, namanya Tgk.Syekh Abdul Wahab. Beliau ini tidak mempunyai keturunan karena sudah meninggal dunia di Mekkah sebelum sempat berkeluarga
2.2. Riwayat Pendidikan
Sejak kecil Tgk. Haji Hasan Krueng Kalee sudah mendapatkan pendidikan agama dari ibunya sendiri disamping ayahnya Teungku Haji Muhammad Hanafiah, terutama membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Ibunya juga seorang anak ulama yaitu Nyakti Hafsah binti Tgk Syaikh Ismail Krueng Kalee. Ketika dalam pengasingan tersebut, beliau belajar pengetahuan dasar agama langsung dari kedua orangtuanya sambil berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di daerah pengungsian.
Dan setelah mempunyai pengetahuan dasar tentang agama Islam yang memadai, bahasa Arab, sejarah Islam dan lain-lain, pada tahun 1906 M, Tgk H.Hasan Krueng Kalee yang telah menjadi remaja berangkat ke Yan, Keudah – Malaysia untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah beliau pelajari sebelumnya. Beliau dikirim kesana oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di Dayah Yan yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk.H.Muhammad Arsyad, seorang ulama besar yang berasal dari Kerajaan Aceh Darussalam. Tgk.H.Muhammad Arsyad adalah teman pengajian ayahnya dulu sewaktu di Lamnyong. Selain itu, keberangkatan beliau ke Keudah juga atas dorongan Teuku Raja Keumala dan Tgk Syaikh Ibrahim Lambhuk. Disana beliau memperdalam ilmu pengetahuan selama beberapa tahun. Dayah Yan di Keudah sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan Islam di Semenanjung tanah Melayu. Para sultan Kerajaan Aceh Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk membangun dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah Seberang.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam abad ke-16 dan 17, terutama dalam masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam (1016-1045 H, atau 1607-1636), sebagian besar semenanjung tanah melayu, termasuk Kedah, berada dibawah perlindungan Kerajaan Aceh Darussalam. Demikianlah, Dayah Yan berjalan baik dari zaman ke zaman, sehingga pecah peperangan di Aceh antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda. Dan setelah pecah peperangan yang dahsyat itu, maka sejumlah ulama-ulama besar hijrah ke Keudah, yang tidak diminta untuk memimpin peperangan, sehingga Dayah Yan waktu itu menjadi pusat pendidkan Islam, juga untuk putri-putri Aceh yang wilayah negaranya sedang dibakar api peperangan.
Setelah menamatkan studinya di Dayah Yan, Tgk H.Hasan Krueng Kalee yang telah mempunyai pengetahuan agama dan bahasa arab yang cukup, atas persetujuan gurunya pada tahun 1910 berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan Ibadah H. serta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di Masjidil Haram Makkah. Disana beliau belajar selama lima tahun, dan yang menjadi gurunya merupakan ulama-ulama besar yang menjadi masyaikh (para guru besar) dalam Masjidil Haram dan sangat terkenal di kota Mekkah. Diantara guru-guru beliau tersebut adalah Syaikh Said Al-Yamani Umar bin Fadil, Syaikh Khalifah, Syaikh Said Abi Bakar Ad-Dimyaty dan Syaikh Yusuf An-Nabhany dan sebagainya. Selain pengetahuan Islam secara umum, pemuda Hasan khusus mendalami ilmu tauhid, fiqh (hukum Islam), tafsir, ilmu falaq, ilmu tasawwuf, dan sejarah Islam, dimana akhirnya Tgk H.Hasan Krueng Kalee mendapat ijazah dalam ilmu-ilmu tersebut, sehingga karena dia telah boleh memakai lakab ulama di muka namanya. Di tiap-tiap jenjang lamanya Tgk H.Hasan Krueng Kalee belajar tujuh tahun sehingga sampai dapat membaca Fathul Mu’in, Minhajul ’Abidin, serta sudah bisa membaca kitan Mahally (Qalyubi wa ‘Umairah) dan Fathul Wahab.
Setelah menempuh pendidikan sekitar enam tahun di Mekkah, Tgk H.Hasan Krueng Kalee pulang ke tanah air. Sekembali beliau tersebut pada tahun 1916 beliau langsung mengambil alih pimpinan Dayah Krueng Kalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus lagi. Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama bertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee membangun kembali Dayah tersebut. Dalam waktu singkat, Dayah Krueng Kalee telah berubah menjadi pusat pendidikan agama Islam terbesar di Aceh sejajar dengan nama-nama besar lainnya seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro dan Dayah Samalanga .
2.3. Menjadi Ulama Besar Di Aceh.
Tgk H.Hasan Krueng Kalee dapat di katagorikan sebagai ulama, karena beliau sejak usia muda sudah memimpin Dayah Krueng Kalee sampai berpulang ke rahmatillah. Disamping itu beliau sudah menjadi ulama di Mekah dengan gelar syeih Hasan Al-Falaqy, karena beliau bukan hanya menguasai ilmu agama saja, akan tetapi ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu falak, sejarah Islam. Selama di Mekkah beliau beliau mempelajri ilmu agama, ilmu tabib, ilmu handasah. Menurut Prof A. Hasjmy, selain usaha yang telah disebutkan diatas juga Tgk H.Hasan krueng Kalee mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah, pemberantas bid’ah dan khurafat.
Untuk itu beliau selalu berusaha bekerja sama dengan masyarakat, membangun dan memperbaiki mesjid yang telah rusak selama perang Aceh seperti Mesjid Lamnyong, juga bekerja sama dengan ulama-ulama, baik mengadakan pengajian-pengajian. Dalam pengajjian tersebut beliau selalu menceritakan dan menasehatkan masyarakat untuk giat mengerjakan yang baik dan berguna serta menjahui perbuatan-perbuatan yang buruk sesuai dengan ketetuan Islam dan sesudah pengajian selesai beliau selalu memberi kesempatan untuk berdiskusi.
Setelah beberapa tahun Tgk Haji Hasan Krueng Kalee membina pendidikan di pesantren Luhur Kreung Kalee dengan menitik beratkan pada ajaran Islam, yaitu ilmu Tauhid, Akhlaq, Fiqh, Tafsir dan Tasauwuf dan Al-Qur’an Al-karim serta beberapa ilmu lain. Tgk H.Hasan Krueng Kalee hanya mengajar pada tinngkat tinggi, sedangkan pada tingkat rendah diajarkan oleh Tgk dirangkang dan Tgk dibalee. Dan beliau mulai memberantas bid’ah dan Khurafat yang timbul dalam masyarakat.
Dari hasil usaha beliau itu secara sedikit demi sedikit penyimpangan- penyimpangan ajaran agama berangsur kurang, namun sampai saat sekarang masih juga terdapat hal-hal yang telah penulis sebutkan diatas. Tetapi tidak seperti sebelum adanya usaha-usaha yang digerakkan oleh almarhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee.
Sebagai contoh keberhasilan beliau memberantas khurafat, ialah tradisi boros dan tidak sesuai dengan ajaran agama, yaitu upacara kenduri besar-besaran diwaktu turun ke sawah yang dilakukan oleh masyarakat kemukiman Lamblang, kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar dengan menyembelih seekor sapi berwarna hitam. Sebelum upacara penyembelihan sapi itu diseret ke sebuah kolam yang airnya agak dalam, kemudian bila sapi itu mendarat dipukul sampai berdarah, begitulah keadaan sapi tersebut yang sudah diseret kedalam kolam, ketika mendarat dipukul, sehingga air kolam itu bercampur dengan darah atau menjadi merah. Setelah sapi itu luka-luka, barulah disembelih secara benar dan dagingnya dibagi-bagi kepada kelompok-kelompok tani yang ada di sekitar sawah tempat kejadian itu. Mereka beranggapan bahwa darah sapi yang mengalir ke sawah bersama air kolam tersebut member berkat dan panennya akan bertambah.
Setelah upacara penyembelihan sapi tersebut, diadakan pantang selama tujuh hari tujuh malam. Maka pada tiap-tiap tahun turun ke sawah mereka memuja kolam itu supaya airnya tetap mengalir sehingga mereka bias menanam padi dengan menyembelih seekor sapi berwarna hitam. Tidak boleh siapapun mengerjakan sawah di sekitar itu, selama batas waktu yang telah ditentukan. Jika ada orang yang melanggar peraturan tersebut, maka ia didenda dengan seekor sapi untuk mengulangi kenduri tersebut. Tetapi andai kata ada orang yang baru datang ke wilayah tersebut tidak mengetahuinya maka dendanya cukup dengan satu hidangan ketan (sepuluh bamboo beras ketan).
Akhirnya beliau memperhatikan tradisi buruk didalam masyarakat bertentangan dengan ajaran agama, maka beliau memanggil pemuka-pemuka masyrakat dalam tiga kemukiman kecamatan Kuta Baro dan sekitarnya untuk diberikan penjelasan dari akibat tindakan atau kepercayaan yang salah itu, maka Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, pada suatu hari datang ke tempat diadakan kenduri itu, untuk menyembelih sapi tersebut dengan baik, sambil membatalkan segala pantangannya dan melarang semua tatacara penyembelihan yang sudah teradat pada diri mereka. Demikianlah usaha dan kegiatan Tgk H.Hasan Krueng Kalee dalam membina masyarakat dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dan ulama lainnya, baik dibidang ibadah maupun dibidang pemberantasan khurafat.
Pada tahun 2007, senin 7 Mai, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H. Sebuah forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman; pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat ma’rifatullah . Keempat ulama itu, masing-masing Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Hamzah Fansuri, Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee dan Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk H Muda Waly. Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya adalah: Tgk Jamaluddin Waly, Tgk Natsir Waly, Abu Panton(Abu Ibrahim Panton), Kadis Syari’at Islam Prof Al Yasa’ Abu Bakar dan seratusan ulama Aceh lainnya. Pada pertemuan ini, Prof Syahrizal Abbas dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bertindak sebagai pemandu acara.
2.4. Pelopor Pendidikan Islam Di Aceh
A. Merintis Dayah Krueng Kalee
Setelah Belanda berhasil menduduki kota-kota dan sebagian besar tanah Aceh, sekalipun peperangan masih berkecamuk dan Aceh tidak pernah mau menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda, sebagian ulama ditugaskan agar melapor kepada pemimpin pentadbiran tentara Belanda untuk membangun pusat pendidikan (dayah) kembali, sementara sebagian yang lain terus memeimpin perang gerilya.
Dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan baru dari pucuk pimpinan perang gerilya Aceh yang telah dipegang oleh ulama Tiro, dimana sebagian ulama tetap memimpin peperangan di hutan-hutan dan di daerah-daerah pedalaman yang luas, sementara sebagian ulama yang lain ditugaskan untuk melanjutkan peperangan dengan bentuk baru, yaitu membangun dayah-dayah kembali, maka semenjak tahun 1904 mulailah dibangun kembali dayah-dayah yang telah porak-poranda akibat peperngan, diantaranya Dayah Krueng Kalee. Demikianlah, dalam tahun 1916 Tgk Haji Hasan yang telah menjadi ulama setelah kembali dari Makkah mengambil alih pimpinan Dayah Krueng Kalee yang hampir-hampir tidak terurus lagi.
Dengan semangat baru yang dibawa dari Makkah dan dengan dorongan keras usia yang baru 30 tahun, Tgk H.Hasan Krueng Kalee mencoba membangun kembali dayah Krueng Kalee dalam arti yang sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu yang singkat dayah Krueng Kalee telah menjadi sebuah pusat pendidikkan Islam yang besar di Aceh, dan termasuk dalam deretan nama beberapa dayah manyang (pesantren luhur), seperti: Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro, Dan Dayah Samalanga.
Sebagai dayah manyang, dibawah pimpinan Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, yang sekarang lebih terkenal dengan lakab: Teungku Chik Krueng Kalee, maka dayah Krueng Kalee telah menghasilakan sejumlah ulama yang telah kembali ke kampungnya masing-masing terus mendirikan dayah-dayah tingkat rendah dan menengah.. Sebagai seorang ulama yang memimpin pusat pendidikan Islam, Tgk H.Hasan Krueng Kalee menganut aliran Ahlu Sunnah dan sebagai orang taSAWwuf beliau menganut tareqat Haddadiyah, yaitu tareqat yang berpangkal kepada Said Abdullah Alhadad.
Pada tanggal 1 dan 2 Oktober 1932 (30 Jumadil awal-1 Jumadi akhir 1351 H.), Tgk H.Hasan Krueng Kalee ikut dalam Musyawarah Pendidikan Islam yang diadakan di Lubuk Banda Aceh. Pertemuan ini membicarakan masalah pembaharuan dan perbaikan sistem pedidikan Islam. Diantara para ulama yang menjadi peserta musyawarah tersebut adalah: Teungku Haji Hasballah Indrapuri, Teungku Haji Abdul Wahab Seulimum, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Muhammad Hasby Ash-shiddiqy, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba, Teungku Haji Hasballah Pase, Teungku Jalaluddin Amin Sungai Limpah, Teungku Haji Abdullah Lam U, Teungku Zakaria Teupin Raya, Teungku Usman Gigieng, Teungku Muhammad Amin Jumphoh, Teungku Haji Umar Meureudu, Teungku Haji Muhammad Alue, Teungku Muhammad Saleh Iboih, dan Teungku Haji Trienggadeng.
Diantara keputusan-keputusan yang diambil ‘Musyawarah Pendidikan Islam’ tersebut, yaitu:
1. Tiada sekali-kali terlarang dalam agama Islam, kita mempelajari ilmu keduniaan yang tidak berlawanan dengan syariat, malah wajib dan tidak layak ditinggalkan untuk mempelajarinya.
2. Memasukkan pelajaran-pelajaran umum itu ke sekolah-sekolah agama memang menjadi hajat sekolah-sekolah itu.
3. Orang perempuan berguru kepada orang laki-laki itu tidak ada halangan dan tidak tercegah pada syarak.
Timbul pertanyaan: mengapa beliau tidak juga atau belum bersedia memasukkan perubahan sistem pendidikan ke dalam dayah Krueng Kalee yang dipimpinnya? Bahkan sampai saat beliau meninggal dunia! Mungkin ada sesuatu perimbangan yang menurut beliau belum waktunya. Wallahu A’lam!
Dayah Krueng Kalee, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah banyak menciptakan kader-kader dakwah, pendidik, ulama dan pemimpin umat, seperti yang telah kami kemukakan dalam uraian yang lalu, bahwa dayah tersebut, disamping aktif menggerakkan pendidikan Islam dikalangan masyarakat, juga aktif melakukan pembinaan kader ulama dan pemimpin masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan, dayah Krueng Kalee ini, sebenarnya lebih banyak berperan dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal seperti sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Sekolah pada waktu itu tidak sanggup mengemban tugas, menampung semua lapisan masyarakat, karena ketentuan yang digariskan penjajah Belanda yang membatasi kesempatan bersekolah bagi masyarakat luas, atas dasar kepentingan penjajah. Dengan demikian dayah sebagai pendidikan Islam yang terdapat di pedesaan, terutama dalam mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut dengan masalah agama Islam.
Tahun 1904 dapat dianggap sebagai kebangkitan kembali dayah-dayah tradisional yang sebelumnya telah hancur pada saat peperangan fisik melawan Belanda. Di antara dayah yang dibangun tersebut adalah Dayah Krueng Kalee. Sekembali Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee dari Mekkah pada tahun 1916 beliau mengambil alih pimpinan Dayah Krueng Kalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus lagi.
Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama bertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee membangun kembali Dayah Krueng Kalee dengan arti yang sesungguhnya. Dalam waktu singkat, Dayah Krueng Kalee telah menjadi pusat pendidikan agama Islam yang besar di Aceh sejajar seperti nama-nama seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro dan Dayah Samalanga.
Menurut keterangan hasil dari wawancara tim penulis dengan murid-murid beliau yang masih hidup, Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee adalah seorang ulama Tassawuf yang menganut aliran tarekat Haddadiyah, yaitu tarekat yang berpangkal dari Said Abdullah Al-Haddad. Aliran ini termasuk paham yang keras dan sangat sulit untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan.
Proses pendirian dayah Krueng Kalee dimulai dari mendirikan pondok-pondok dari batang bambu, batang kelapa dan atap rumbia dengan tidak pernah hilang tujuan. Sebagai seorang ulama yang mewarisi para nabi dengan keyakinan yang kokoh itulah sebabnya beliau mendirikan dayah yang diberi nama Dayah Luhur Krueng Kalee. Pembangunan dayah tersebut dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat yang tergugah kekhawatiran akan suramnya masa depan agama Islam. Mereka melihat realitas dalam masyarakat sekitarnya, dimana masyarakat pada waktu itu sebagian besar telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Dari keterangan diatas jelas bahwa proses pendiriannya dimulai dari fasilitas yang sangat minimdan sederhana, partisipasi tokoh-tokoh masyarakat sangat tinggi karena mereka mendambakan agar agama Islam menjadi petunjuk dalam mengarungi kehidupan bagi generasi yang akan datang. Kemajuan suatu dayah sangat tergantung kepada ulama yang memimpin dayah itu, bukan kepada nama dayah itu sendiri, oleh karena itu kita mengetahui mengapa seorang santri itu pergi belajar ked ayah yang jauh, sedangkan di dekatnya ada dayah pula. Hal ini menunjukkan adanya kebebasan untuk memilih guru dan ilmu yang dipilih seseorang.
Berdasarkan kutipan diatas jelas bahwa kemajuan suatu dayah sangat tergantung pada pemimpin itu sendiri. Adapun tujuan utama didirikan dayah tersebut adalah untuk meningkatkan pendidikan ini dikalangan masyarakat. Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh Prof. A. Hasjmy dalam tulisannya: peranan agama Islam dalam perang Aceh dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa “pendidikan islam telah mengambil tempat dalam pembangunan bangsa yang dimulai dengan berdirinya pusat pendidikan dayah Cot Kala, yang kemudian berkembang di seluruh Aceh”.
Menurut sumber diatas tidak dapat diragukan lagi bahwa kader-kader Islam yang tampil dimasa lalu, ditempa melalui dayah yang berkembang di seluruh Aceh. Selanjutnya menurut informasi yang diperoleh bahwa dayah luhur Krueng Kalee juga telah mendidik masyarakat dalam bidang pendidikan agama Islam dan untuk mencetak kader-kader ulama dan da’i. Dapat dipahami bahwa dengan tampilnya dayah luhur Krueng Kalee ditengah-tengah masyarakat telah dapat membawa hikmah keagmaan yang sangat besar bagi masyarakat Aceh, bahkan ke daerah-daerah lain, tidak sedikit dari mereka menjadi pemimpin formal dan informal di daerahnya seperti menjadi keuchik, imam masjid, imam menasah, guru pengajian, penceramah dan paling tidak mereka menjadi tuha peut, pokoknya mereka turut mendarmabaktikan ilmunya untuk kemajuan masyarakat.
Dayah Krueng Kalee memiliki ciri khas yaitu lebih menitikberatkan kepada pengetahuan Islam, ciri khas lain, disiplin dan tempaan keras mengenai menuntut ilmu sebagai ibadah.karena kedudukan oarng yang berilmu didalam agama Islam jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan
Rasulullah SAW pernah menjelaskan dalam sabdanya yang berbunyi: “seseorang yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalan untuknya menuju Syurga. Dan sesungguhnya para malaikat akan membentang sayapnya, karena senang bagi penuntut ilmu dan orang yang berilmu akan diminta ampun oleh segala apa yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan di laut, kelebihan oarng yang berilmu atas oaring yang beribadah sama seperti kelebihan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Ajaran inilah yang menjadi anutan bagi Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, sehingga ia yang berbeda dari pendidikan umum lainnya. Sedangkan materi yang beliau ajarkan didayah tersebut meliputi antara lain: Al-Qur’an Al- Karim, ilmu Tauhid, Hadis, Tafsir ilmu Ma’any, ilmu Bayan, ilmu Badi’, ilmu Falaq, Nahu, Sharaf dan Sejarah Islam.
B. Dayah Krueng Kalee sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Selama hayatnya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, sebenarnya lebih banyak bertekun menangani bidang pendidikan Islam. Beliau berupaya mewujutkan cita-cita mengembangkan agama, dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan dalam bentuk dayah. Masyarakat Aceh Besar pada umumnya menyebutkan Dayah luhur Krueng Kalee sebagai salah satu dayah yang popular dan cukup disegani. Dayah ini berlokasi di desa Siem-Krueng Kalee, kacamatan Darussalam, kabupaten Aceh Besar, kira-kira tujuh km dari Kopelma Darussalam(lokasi kampus IAIN Ar-Raniry dan Unsyiah sekarang).
Dimasa lalu dayah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan agama di Aceh. Dayah berperan untuk memelihara dan mengembangkan eksistensi ilmu agama di kalangan masyarakat Aceh. Mereka sangat menghargai para ulama yang berdedikasi, tanpa mengenal lelah dalam membina kepribadian orang Islam yang berlandaskan kebenaran agama Islam melalui dayah-dayah. Ulama-ulama ini pulalah yang telah ikut berperan membentuk kader-kader pejuang, yang mengusir belanda dari Aceh khususnya dari Indonesia pada umumnya sampai pada masa penjajahan Jepang, serta memperthankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu tidak dapat disangkal,betapa besarnya peranan dayah dalam memurnikan ajaran Islam dan mengembangkan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah sanggup mencetak kader-kader dan pejuang-pejuang kemerdekaan yang bersemangat tinggi. Dengan demikian jelas bahwa dayah berperan antara lain sebagai lembaga pendidikan dan pembina kader.
C. Mendidik Kader Ulama Aceh
Menurut sejarah, sejak berdirinya Dayah Krueng Kalee telah banyak menghasilkan kader-kader pendidik, da’i dan ulama yang dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik bidang aqidah, syariat dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka tersebar di seantaro Aceh menjadi mercusuar dalam lapangan keilmuan Islam. Saat tim penyusun buku ini menelusuri jejak Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, beberapa Ulama Aceh yang pernah menjadi murid almarhum Tgk H.Hasan Krueng Kalee tim penulis mendapati mereka sebagai orang-orang yang sangat disegani di daerahnya karena keaktifan mereka mengajarkan ilmu Agama kepada masyarakat.
Dintara ulama-ulama dari murid-murid Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, yang cukup terkenal di daerahnya masih masing antara lain dapat disebutkan:
1. Teungku Ahmad Pante, ulama dan imam masjid Baiturrahman Banda Aceh.
2. Teungku Hasan Keubok, ulama dan Qadhi XXVI mukim di Aceh Besar.
3. Teungku M. Saleh Lambhouk, ulama dan imam masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
4. Teungku Abdul Jalil Bayu, ulama dan pemimpin dayah Al-Huda Aceh Utara.
5. Teungku Sulaiaman Lhoksukon, ulama dan pendiri dayah Lhoksukon, Aceh utara.
6. Teungku M. Yusuf Peureulak, ulama dan ketua majlis ulama Aceh Timur.
7. Teungku Mahmud Simpang Ulim, ulama dan pendiri dayah Simpang Ulim, Aceh Timur.
8. Teungku Haji Muda Waly Labuhan Haji, ulama dan pendiri dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan
9. Teungku Syeh Mud Blang Pidie, ulama dan pendiri dayah Blang Pidie Aceh Selatan.
10. Syeh Shihabuddin, ulama dan pendiri dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara.
11. Kolonel Nurdin, bekas Bupati Aceh Timur, yaitu anak angkat beliau sendiri.
12. Teungku Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri dayah Ulee Titie.
Dari data di atas jelas bahwa murid Tgk H.Hasan Krueng Kalee pada umumnya mengikuti jejak gurunya, menjadi ulama yang membuka dayah di tempat mereka masing-masing hampir ke seluruh pelosok. Dengan demikian jelas Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, ulama besar di Aceh, yang terkenal kemana-mana karena banyak diantara murid-murid beliau yang membuka dayah di tempatnya masing-masing. Hal ini diakui oleh warga masyarakat kecamatan Darussalam sendiri, dayah Luhur Krueng Kalee sebagaimana dayah lain juga telah mencetak kader-kader pemimpin umat baik yang formal maupun informal dalam masyarakat.
Tgk Haji Hasan Krueng Kalee melaui dayahnya tidak pernah berpangku tangan dalam meneruskan dan melaksanakan fungsinya kapan dan dimana saja. Hal itu terbukti dimana dayah beliau tersebut telah banyak mencetak ulama-ulama yang mengabdi dietngah-tengah masyarakat, dengan keikutsertaan dayah Luhur Krueng Kalee beserta ulamanya dalam membina pendidikan agama Islam dikalangan masyarakat. Maka sebagian besar penduduk kecamatan Darussalam telah memperoleh pendidikan terutama bagi generasi muda.
Semasa hidupnya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, telah membina kader-kader ulama melalui jalur jalur pendidikan dayah, dan juga dalam jalur organisasi yang dipimpinnya. Diantaranya beliau termasuk juga tokoh yang mengembangkan organisasi P.I. Perti (Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah), dan mengembangkan tareqatnya yang bernama “Tarekat Said Abdullah Al-Hadad r.a.” yang menurut keterngan Al-Ustaz Muhammad Asyik Mu’in bahwa ratib Al-Hadad yang dikembangkan oleh almarhum Tgk H.Hasan Krueng Kalee adalah melulu mengucapakan laa ilaha illa Allah yang meliputi istighfar, tahlil dan tahmid. Selain itu, dimasa perjuangan Tgk H.Hasan Krueng Kalee dapat dikatagorikan sebagai perintis kemerdekaan, karena beliau merupakan salah seorang pemimpin dari barisan Mujahidin di daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Kemudian beliau terpilih menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai islam Perti.
Kiprah Tgk H.Hasan Krueng Kalee baik dalam bidang pendidikan maupun politik sangat besar artinya bagi kemajuan Aceh. Beliau memikirkan kemajuan Aceh hingga akhir hayat, dan meninggal pada tanggal 19 Januari 1973 dengan meninggalkan tiga orang istri, yaitu Teungku Nyak Safiah di Krungkale, Teungku Nyak Aisyah di Krungkale, dan Teungku Nyak Awan di Lamseuneung. Dari tiga istri ini beliau memperoleh tiga belas orang anak 8 pria dan 5 wanita.
Beliau disamping aktif mempelopori pendidikan Islam di Aceh melalui jalur dayah, juga pernah memegang peranan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dalam rangka mempertahankan Indonesia merdeka melawan Belanda dengan seruan jihad fi sabilillah. Dengan demikian ulama seperti Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Menurut Prof. Dr. Hamka menilai bahwa dengan adanya ulama dapat merintis melangkah lebih maju, dalam mengisi kemerdekaan, yang maksudnya untuk saling mendekati. Dengan ini terbukti niat bersama untuk membangun Negara, rohani dan materi. Pemerintah dan ulama saling membutuhkan .
Dengan beberapa catatan diatas, maka Tgk H.Hasan Kruengkalee dapat di katagorikan sebagai ulama besar di Aceh sepanjang masa, karena beliau sejak usia muda sudah merintis pendidikan Islam di Aceh dengan memimpin sebuah lembaga pendidikan islam terbesar dan termashur di Aceh hingga beliau berpulang ke rahmatullah. Disamping posisi beliau sebagai seorang ulama besar di Aceh, saat itu beliau juga dikenal sebagai ulama di Mekkah dengan gelar Syaikh Hasan Al-Falaqy(berdasarkan pengakuan murid-murid beliau yang masih hidup). Beliau tidak hanya menguasai ilmu agama, akan tetapi beliau juga terampil dengan khazanah keilmuan yang lain seperti ilmu falak, sejarah Islam dan sebagainya. Selama di Mekkah, beliau juga mempelajari ilmu tabib(kedokteran), ilmu handasah(arsitektur). Menurut Prof A. Hasjmy, Tgk.H.Hasan Kruengkalee sangat eksis mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah, pemberantas bid’ah dan khurafat dan sebagainya. Itulah sepintas sosok beliau yang pada tahun lalu Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh memberikan beliau gelar sebagai tokoh pendidikan Aceh saat acara peringatan Hari Pendidikan Daerah(HARDIKDA).
BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa:
1. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan seorang ulama besar di Aceh
2. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee sangat aktif membina masyarakat Aceh untuk mengenal lebih jauh tentang agama Islam, baik dalam bidang akidah, akhlak dan berbagai ilmu agama dan pengetahuan lainnya.
3. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee melalui dayah Krueng Kalee telah mendidik banyak kader ulama yang tersebar di seantaro Aceh.
4. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan pelopor pendidikan Islam di Aceh.
5. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee memperoleh gelar sebagai tokoh pendidikan Aceh yang diberikan oleh Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Daud Sulaiman, Al-imam Hafid, Sunan Abi Daud, Juz. II, Cet. I. (Mesir: Syirkah Maktabah wa mathba’ah Isa- baby Al- Halaby), 1952.
Fauziah Ibrahim, Tgk H.Hasan Krueng Kalee Sebagai Tokoh Pendidikan Islam di Aceh, Skripsi, 1986.
Hasjmy, Prof. A, Peranan Islam dalam perang Aceh dan perjuangan Kemerdekaan Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang), 1976.
Hasballah Saleh, Teungku, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, santunan, No. 19, Mei 1978.
Hamka (H. Abd.MalikKarim Amrullah), Ulama dan Pembangunan, cet. II, Cemara Indah, Jakarta, 1976
Herry Mohammad, Dkk, Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani), 2006.
Ibrahim Husen, persepsi Kalangan Dayah Terhadap Pendidikan Tinggi di Aceh, (Sinar Darussalam, No. 146), Maret/April 1985.
Muhammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, Jilid I, 1961, hal. 111.
Shabri A, dkk, Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX, (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Prop.NAD, 2007.
Sumber lain:
- Sebagian besar referensi atau data-data dalam penulisan makalah ini penulis peroleh dari hasil wawancara Fauziah Ibrahim dengan keluarga Tgk H.Hasan Krueng Kalee, dan juga wawancara penulis sendiri saat penulis mengajar di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkalee untuk keperluan arsip yayasan Darul Ihsan. Sebagian data ini juga penulis peroleh dari tokoh-tokoh ulama dan tokoh masyarakat yang pernah menimba ilmu sama beliau, seperti: Abu Idris Lamnyong, Tgk.H.Daud Zamzami(Wakil Ketua Majlis Permusyawaratan Ulama/MPU Aceh), Tgk H.Yusuf Matangkuli(Abu Ceubrek), serta dari berbagai sumber pustaka lainnya.
- Berita Serambi Indonesia, Senin, 7 Mai 2007.
- Berita MPD Aceh
- Risalah Verslag Pertemoean Oelama-oelama (Banda Aceh: Jami’ah AI slahiah Sungai Limpah, 1937).
Jumat, 09 Juli 2010
MERUBAH PARADIGMA TAUHID

MERUBAH
PARADIGMA TAUHID
Oleh Teuku Zulkhairi
Tauhid dalam Islam merupakan suatu disiplin keilmuan yang mempelajari tentang keesaan Allah. Dalam konsepsi teoritisnya, ilmu ini menjelaskan segala sesuatu tentang kekuasaan zat Allah Tuhan semesta alam. Bahwa Allah itu zat yang Maha Melihat, Maha Mengatur, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, memiliki nama-nama yang bagus(asmaul husna) dan sebagainya. Tauhid juga mengajarkan seorang hamba untuk meninggalkan semua sembahan selain kepada Allah Swt. Namun, dalam praktek aplikatifnya, teori tauhid ini seakan menjadi bagian yang terpisahkan dari realita kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada pengaruh yang signifikan dalam upaya rekonstruksi kebangkitan umat dan tranformasi kehidupan sosialnya.
Pengingkaran dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai ketauhidan menjadi hal yang sangat lumrah dilakukan. Baik oleh rakyat biasa, maupun pejabat dan petinggi negeri yang mengingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. Faktanya, penolakan terhadap hukum Allah dan berbagai pelanggaran terhadap norma-norma agama dan sosial lainnya masih terus berlanjut. Misalnya praktek perdukunan, guna-guna, sombong, angkuh, syirik, korupsi, kolusi, nepotisme(KKN), kemaksiatan dan berbagai tindak kejahataan serta perbutan tidak bermoral lainnya terus berlangsung setiap saat dan bahkan semakin sulit untuk dihentikan. Dan ironisnya, pelanggaran-pelanggaran tersebut justru dilakoni oleh umat Islam yang hafal betul dengan dalil-dalil tauhid dan ruang lingkupnya.
Dalam konteks moralitas, belum hilang ingatan kita kasus mesum yang menimpa seorang anggota DPRK Aceh Timur beberapa hari kemudian kita kembali dihebohkan dengan berita mesum lainnya yang dilakoni anggota DPRK Sabang. Kasus mesum wakil rakyat dipandang sangat memalukan dan kita sesali. Pasalnya, jika sebagai wakil rakyat masih belum menjungjung tinggi moralitas maka kapan mereka akan memberikan contoh teladan kepada rakyatnya. Dalam konteks sosial dan human rights, isu dana aspirasi di Parlemen(DPR-RI) menambah getirnya dada kita mendengar dan menyaksikannnya.
Begitu juga isu dana abadi yang disajikan media lokal akhir-akhir ini telah menjadi buah bibir masyarakat Aceh. Dana itu menurut berita di media disimpan di Bank(BPD) semenjak beberapa tahun yang lalu. Saya tidak habis pikir kenapa dana abadi itu terus abadi tak dipergunakan untuk kemaslahatan pendidikan rakyat Aceh. Dan rakyat sebagai pemilik dana tersebut tidak bisa menikmatinya akibat tamak dan rakusnya pejabat Aceh yang menyembunyikannya. Entah kapan anda semua merasa kenyang memakan uang rakyat yang sedang hidup dalam kepapaan. Dengan jumlah simpanan yang sangat banyak itu(2,4 Triliyun), niscaya bunganya pun tidak sedikit. Bunga itu sudah pasti dinikmati oleh segelintir pejabat Aceh. Begitu juga berbagai kasus-kasus amoral lainnya yang tidak mungkin kita sebutkan satu persatu.
Apakah para pelakunya tidak memiliki pengetahuan tentang disiplin ilmu tauhid?. Apakah para pelakunya tidak mengetahui bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Mengetahui dan sebagainya?. Bukan, namun hal itu terjadi karena ‘tauhid’ yang dipahami hanya sebatas ilmu pengetahuan tentang kekuasaan Allah. Pengetahuan tersebut tidak dijadikan sebagai paradigma (cara pandang) yang berimplikasi dalam kehidupan nyata. Hal ini menurut saya merupakan sebuah persoalan yang layak untuk dibicarakan dan didiskusikan. Konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Padahal, seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu Maha Esa, tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan, sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Maka, mestinya pemahaman seorang muslim terhadap Tauhid ini harus memberi pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan empiris(nyata). Selain itu, paradigm tauhid seharusnya mampu
Selain itu, aplikasi sosialnya mestinya tidak adanya peramal dan dukun, artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan, bukan dukun, bukan pula peramal.Karena jika kita tidak berpikiran demikian, maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. Akan tetapi, hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini. Hal ini bisa kita saksikan dengan munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televise. Seperti Romi Rafael, Mama laurent, Ki Bodo atau yang lainnya. Ketika kita mengakui bahwa Allah itu Maha Esa, maka mestinya tidak ada praktek perdukunan dan apalagi mempercayainya. Tidak ada lagi yang masih percaya dengan takhayyul, khurafat. Tidak ada lagi yang masih suka mengamalkan ilmu sihir untuk guna-guna(pelet) dan pekerjaan syirik lainnya yang dilarang Allah.
Tauhid pada hakikatnya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. Konsepsi ketauhidan sangat tidak memada dengan hanya perulang-ulangan materi pelajaran atau pengetahuan saja. Konsep ketauhidan ini mestinya bisa membawa umat Islam ke dalam sebuah kehidupan yang diimpikan. Pengetahuan terhadap Konsep pengesaan Allah mestinya tidak hanya berhenti di sini saja. Harus sinergi antara pengetahuan dan implementasi dalam kehidupan sosial. Ketika dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan, maka dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban, tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalagi kepentingan atau hawa nafsu pribadi, apalagi sampai menuhankan tuhan selain Allah seperti hawa nafsu matelisme dan sebagainya. Dengan pengetahuan tentang tauhid tersebut dan mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar, maka mestinya realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul.
Jika bagian dari ajaran tauhid itu mengajarkan bahwa Allah itu maha melihat, maka mestinya seorang muslim itu akan malu melakuakn kemaksiatan karena ia yakin betul bahwa Allah selalu memperhatikannya. Alhasil, mestinya kita tidak pernah mendengar kasus praktek KKN yang dewasa ini sudah begitu membudaya. Jika bagian dari Tauhid itu mengajarkan bahwa Allah itu Maha Mengetahui, mestinya hal ini kita implementasikan dalam realita kehidupan dengan cara meninggalkan semua perbuatan yang tidak diridhaiNya seperti kasus-kasus yang penulis sebutkan diatas. Jika bagian dari ketauhidan tersebut mengajarkan bahwa Allah itu Maha Melihat, maka mestinya tidak ada lagi praktek penipuan, tidak ada lagi golonngan yang resistensi terhadap syari’at Allah. Tidak ada lagi semua bentuk kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syari’atNya. Maka, hendaknya kita selalu mempertanyakan kepada diri pribadi kita, sudahkah kita menjadi hamba Allah yang mengimplementasikan semua nilai-nilai ketauhidan dalam realita kehidupan? Sudahkah kita menjadi seorang muslim yang benar-benar mengesakan Allah? Sudah kita menjadi hambaNya yang Ataukah kita masih memiliki tuhan-tuhan kecil selain Allah yang ternyata selalu menjadi sesembahan kita seperti hawa nafsu, materialisme dan sebagainya? Masihkah kita menjadi manusia yang selalu resistensi dengan syari’at Allah?. Na’uzubillahi min zalik.
Maka, saya pikir merubah paradigma tauhid adalah hal yang niscaya. Bahwa kajiannya tidak lagi hanya memada dengan teologi-antropologis, akan tetapi juga sosio-antropologis. Bahwa konsepsi ketauhidan bukanlah sebatas pada pengetahuan tentang keesaan Allah. Akan tetapi harus disertai dengan praktek aplikatif yang nyata dalam kehidupan empiris. Tanpa itu, maka layak dipertanyakan kesempurnaan syarat-syarat keimanan dan ketauhidan kita. Layak dipertanyakan, sudahkah kita mengakui bahwa Allah itu adalah Tuhan kita?. Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis adalah Mahaiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan aktivis Ikatan Penulis Santri Aceh(IPSA).
Kamis, 10 Juni 2010
Menatap Aceh Pasca Irwandi-Nazar
Menatap Aceh
Pasca Irwandi-Nazar
Oleh Teuku Zulkhairi
Perjalanan kepemimpinan Irwandi-Nazar(IRNA) telah menginjak usia lebih dari tiga tahun. Jangka waktu yang tidak terlalu pendek ini telah menghasilkan berbagai analisis berbagai pihak yang mencoba menilai tingkat keberhasilan mereka dalam memimpin rakyat Aceh membawa mereka ke pintu gerbang ke sejahteraan dunia dan akhirat. Dan sebagai rakyat, saya ingin turut memberikan sumbangsih penilaian yang konstruktif demi perbaikan Aceh ke depan.
Kemenangan mereka pada dasarnya menandai berakhirnya hegemoni dan kekuasaan mutlak tokoh-tokoh nasionalis dari partai berbasis Nasional. Kemenangan tersebut juga manifestasi dan transmisi serta perwujudan kemenangan rakyat Aceh karena diwakili oleh kelompk pejuang(GAM) dan kaum aktivis(mahasiswa). Sejatinya, kemenangan fantastis IRNA dalam pilkadasung kali pertama dalam sejarah sanggup mengobati luka lara di hati rakyat Aceh yang telah menderita sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu dibawah rezim penguasa dari partai-partai nasional.
Rakyat berharap banyak setelah “nanggroe ka ta ato keu droeteh”. Namun, faktanya harapan tinggallah harapan. Tiga tahun lebih pasangan IRNA memimpin Aceh tidak banyak perubahan yang bisa dirasakan oleh masyarakat, melainkan hanya bisa dirasakan oleh kelompok tertentu saja. Kucuran dana triliyunan rupiah dari pusat dan dari berbagai negara luar(pasca tsunami) belum menjamin berakhirnya keterpurukan rakyat Aceh. Angka kemiskinan yang meskipun persentasenya cenderung menurun rata-rata 2 persen/tahun namun masih diatas rata-rata tingkat nasional, tingkat pengangguran yang meski persentasenya mulai menurun rata-rata 0,5-1persen/tahun namun masih diatas rata-rata nasional (sumber, Tabloid Tabangun Aceh/1/2/2010), begitu juga persoalan rumah bagi korban tsunami yang belum juga tuntas, serapan anggaran(sebagai alat ukur keberhasilan pemerintah) yang sangat rendah setiap tahun, persoalan undang-undang pidana Islam (Qanun Jinayat) yang tersendat dan stagnasi di tangan pasangan ini.
Begitu juga budaya korupsi yang terus merajalela tanpa ada usaha ekstra untuk memberantasnya, bahkan kesan yang timbul pemerintah sering melindungi para koruptor atau tanpa keseriusan pasangan ini secara kepemerintahan. Indeks kasus korupsi dibawah kepemimpinan IRNA meningkat dahsyat. Belum tuntas pengusutan kasus pencurian uang rakyat sebesar 220 Milyar di Aceh Utara beberapa waktu yang lalu, esoknya kita kembali mendengar kasus korupsi di Dinas Pendidikan dalam proyek pengadaan sertifikat mampu baca Alquran. Begitu juga kasus-kasus lain seperti penjualan besi jembatan yang disinyalir melibatkan salah seorang petinggi provinsi Aceh. Begitu juga kasus-kasus yang belum tuntas seperti, pembangunan taman hutan Rakyat senilai Rp 2,6 miliar. Pengadaan 12.000 eks Buku Pendidikan. Dana Kesejahteraan Guru di Aceh Utara sebesar Rp11,8 miliar. Buku di Dinas Pendidikan Aceh yang tidak didistribusikan sebanyak 32.000 eksemplar. Pungutan uang penyusunan kontrak proyek APBA 2008 pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh. Indikasi Korupsi Pengelolaan Dana di TVRI Stasiun Banda Aceh sebesar Rp 13,2 M. Kasus pengadaan bibit kelapa sawit palsu di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh. Indikasi Kasus Stempel Palsu untuk melakukan tindak pidana korupsi di UPTD II Lhokseumawe pada Dinas Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh sebesar Rp 75.178.000. Indikasi Kasus Korupsi Mark-up Belanja di Meuligoe Gubernur Aceh sebesar Rp 148,6 Juta. Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Panti Asuhan Jroh Naguna, UPTD Panti Sosial Meuligo Jroh Naguna (PTSMJ) Banda Aceh sebesar Rp 80 Juta. Indikasi korupsi bantuan banjir Aceh Timur sebesar Rp 16 miliar. Indikasi korupsi pembebasan lahan Blang Panyang Kota Lhokseumawe sebesar Rp 2 miliar. Penggelapan dana pendidikan tahun anggaran 2007 di Kabupaten Bireuen sebesar Rp 1,3 miliar. Indikasi korupsi pengadaan CT-SCAN di RSU Zainoel Abidin. Indikasi korupsi di BPKS Sabang. Kasus Pesawat NAA Kabupaten Aceh Utara.(Sumber MaTA, Serambi, 5/12/2009).
Bahkan, beberapa waktu yang lalu kembali muncul berita terbaru perihal telah digelapkannya uang pajak negara sebesar 20 Milyar oleh salah satu bendahara Pemda Aceh (Serambi, 3/12/2009). Dalam kontek nasional, berita-berita kasus korupsi pun tidak kalah hebohnya serta mendominasi berita-berita di media massa, seperti kasus bank Century (yang diyakini pelakunya dilindungi penguasa saat ini) yang telah merugikan negara 6,7 triliyun serta kasus-kasus lain yang terjadi setiap saat yang tidak mungkin penulis cantumkan disini semuanya. Ini hanyalah kasus-kasus yang berhasil diungkapkan oleh media dan lembaga-lembaga anti korupsi, sedangkan kasus-kasus lain yang belum berhasil diungkapkan disinyalir laksana fenomena gunung es, yang berhasil diendus hanyalah puncaknya saja, sementara pangkalnya tak tersentuh. Dan berbagai fakta yang sering dimunculkan ke permukaan oleh media massa ini sudah cukup sebagai indikator dan pembuktian kegagalan pasangan IRNA dalam memimpin rakyat Aceh.
Berbagai kebijakan yang dilahirkan banyak yang tidak populis alias tidak berpihak kepada rakyat kecil, misalnya seperti anggaran untuk Badan Pembinaan Pendidikan Dayah(BPPD) yang untuk tahun ini akan dipangkas hingga 75 persen, padahal tahun lalu BPPD adalah satu-satunya lembaga yang sangup mengelola dan menghabiskan anggaran hingga mencapai 98persen lebih. Di mata kaum agamawan/santri, kebijakan “pemangkasan” ini tentu saja tidak populis ditengah janji pemerintah untuk meningkatkan taraf pembangunan dan mutu dayah.
Indikatot lainnya adalah seperti “polemik’ dana aspirasi DPRA yang disinyalir penuh dengan berbagai kepentingan politis alias sebagai “balas budi” atas hutang masa kampanye. Akibat dana aspirasi yang menelan anggaran ratusan Milyar ini juga diyakini dana untuk ADG(Anggaran Dasar Gampong) pada tahun ini akan dipangkas hingga 50 persen, padahal rakyat pedesaan bisa berbuat banyak seperti meningkatkan atau membuat jalan desa, memperbaiki saluran, pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, memperbaiki jembatan, banyak hal yang bisa dilakukan dengan dana ADG. Dengan dana itu pula menjadi pemicu/stimulus bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan kawasan mereka. Ini hanya beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang lain, seperti serapan anggaran yang setiap tahun sangat rendah di tangan pasangan IRNA. Berbagai indikator ini telah semakin antipatinya masyarakat menilai track record dan performa kinerja kekuatan politik dominan saat ini, baik yang berbasis nasional maupun kelokalan(daerah).
Sebelum era IRNA, pucuk kepemimpinan di Aceh dipegang secara bergilir oleh tokoh-tokoh dari partai Nasional. Dalam periode kepemimpinan tersebut, rakyat Aceh faktanya terus menerus berada dalam kubangan ketertinggalan dari semua aspek sisi kemajuan, keadilan dan kesejahteraan. Jumlah pendudukan miskin dengan angka yang sangat fantastis, mutu pendidikan yang sangat terbelakang, pembangunan fisik yang sangak ketinggalan, kebebasan politik yang terkekang, tingkat kesejahteraan yang dibawah rata-rata secara nasional, itulah gambaran singkat kepapaan rakyat Aceh masa lalu dibawah rezim partai Nasional.
Maka atas dasar ini, kita meyakini bahwa penguasa saat ini yang diyakini semua kalangan telah gagal(meski tidak kita katakan gatal alias gagal total) membawa rakyat Aceh ke gerbang pintu kesejahteraan tidak akan lagi menjadi pilihan mayoritas rakyat pada pilkadasung 2012 nanti. Kemudian mari kita melihat ke partai Nasional, sepertinya parnas tidak akan lagi menjadi kekuatan dominan di Aceh, apalagi dengan realita sekarang Parta Demokrat yang menjadi pemenang kedua pemilu legislative dan eksekutif tahun yang lalu kini mengalami krisis kepercayaan publik dan pesonanya pun telah redup pasca kasus Century dan berbagai kasus lainnya. Mengenai peluang Golkar, saya kira partai ini tidak akan lagi menjadi penguasa dominan di Aceh mengingat sejarah suram rakyat Aceh bersama mereka sejak beberapa dasawarsa yang lalu hingga kini, penuh dengan warna pragmatisme.
Melihat pengalaman sejarah dimana rakyat Aceh cenderung memberikan amanat dan kepercayaan, hasrat serta harapan politiknya secara bergilir, maka penulis meyakini pasca 2012 nanti, maka akan lahir kekuatan politik baru yang berasal dari kaum agamawan berbasis pesantren atau ulama. Maka, penulis meyakini konstalasi peta kekuatan politik Aceh diprediksi akan berubah 180 derajat tahun 2012 pasca pilkada nanti. Beberapa kekuatan politik yang saat ini dominan, power, pesona dan kharismanya diyakini akan terjun bebas setelah pilkda 2012 nanti. Dan satu-satunya komponen masyarakat Aceh yang belum diberi kepercayaan untuk memimpin rakyat Aceh adalah tokoh agamawan yang berbasis pesantren atau dari kalangan ulama dayah(setelah periode Daud Beureeh di masa lalu). banyak kalangan meyakini bahwa potensi ‘terpendam’ kepemimpinan yang dirindukan di Aceh saat ini adalah kepemimpinan berbasis dayah. Institusi dayah (pesantren), dalam awal mula sejarahnya adalah institusi sosial religius yang mandiri, jauh dari kontaminasi ‘kepentingan kekuasaan’. Maka tidak heran, dayah banyak menghasilkan ‘pemimpin-pemimpin substantif. Sejarah perjuangan Aceh mencatat, banyak alumni dayah yang muncul sebagai pemimpin yg disegani, baik dalam tataran sipil maupun militer. Saya kira, kader-kader pemimpin seperti itu kini telah banyak lahir di Aceh, mungkin belum terlalu dikenal, sebab ruang interaksi mereka dengan wilayah publik masih terbatas.
Beberapa tahun belakangan, kesadaran berpolitik kaum agamawan(berbasis pesantren) telah semakin tinggi. Maka sekarang tinggal bagaimana kaum agamawan bisa mengorbitkan seorang tokoh diantara mereka yang memiliki karakteristik kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam, seperti; Pertama, Shiddiq (berlaku benar), baik dalam keyakinannya maupun dalam kata-katanya, dan benar dalam tindakannya. Satu kata dan perbuatan. Benar dalam ibadahnya, dalam kebijaksananya, keberpihakannya pada kebaikan(syari’at Islam). Kedua, memiliki sifat fathanah (cerdas). Cerdas di sini baik spiritual maupun intelektual. Juga cerdas emosional dan cerdas secara sosial. Ketiga, Tabligh (aspiratif,loyal, vokal) dalam menyuarakan kebenaran, menyampaikan suatu tanpa menyembunyikan kepada rakyatnya untuk tujuan kebaikan dan kemajuan bangsanya Kedua, dapat dipercaya. Dimaksudkan agar ia tidak berkhianat dalam menjalankan amanah rakyat yang mimilihnya. Saya pikir mereka harus terus mengkampanyekan karakteristik calon pemimpin seperti ini. Dan sebenarnya, untuk menjadi pemimpin tidak perlu harus pandai-pandai banget, yang penting aspiratif alias mau mendengar kritikan dan masukan dari rakyatnya, hal ini yang tidak kita dapatkan pada diri pemimpin kita sekarang.
Namun demikian, untuk mengambil kepercayaan publik kaum agamawan ini harus berkalaborasi dengan kaum akademisi yang juga harus memiliki karakteristik pemimpin dalam Islam. Disamping itu, mengingat persyaratan pilkada ke depan harus melalui jalur parpol(non independen), saya kira kaum agamawan ini perlu juga mendekati parpol Islam peraih suara di legislative yang memilik track record bagus, mereka bisa mendekati PKS dan PDA, mereka juga bisa mendekati PPP, karena partai terakhir ini meski jumlah pendukungnya telah banyak berkurang namun tidak sedikit kaum agamawan yang masih bernaung di partai ini dengan pendukung fanatiknya. Setelah konsolidasi internal mereka menjadi tangguh dan jaringan bawah tanahnya telah kuat, maka saya yakin mereka akan bisa bertartisipasi dalam pilkada dua tahun yang akan datang dan menjadi kekuatan politk Islam baru yang tampil sebagai pemenang, sebagai tahap awal menata kembali cita-cita rakyat Aceh untuk melihat hadirnya kembali kesejahteraan berbasis rabbani dan kejayaan Islam di Aceh. Insya Allah. Amiin. Wallahu a’lam bishsawab.
Penulis adalah aktivis Ikatan Penulis Santri Aceh(IPSA) dan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Langganan:
Komentar (Atom)